Mentan : Swasembada Protein bukan Daging Sapi

MONITOR, Lampung Selatan – Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman melakukan Kunjungan Kerja di Kabupaten Lampung Selatan, pada Kamis (29/03). Dalam kunjugan itu, Amran memantau Panen Pedet atau anakan sapi yang merupakan program Upsus SIWAB (Sapi Indukan Wajib Bunting) Tahun 2017 dimana lebih dari 1000 ekor, Sapi Petani Peternak Kab. Lampung Selatan, dari jenis Limousin, Sapi Bali, Simental dan Brahman Cross diproduksi.

Didampingi Ketua Upsus Prov. Lampung, Justan Ridwan Siahaan dan Sekretaris Direktur Jenderal Pertenakan, Nasrullah, kegiatan panen pedet di lampung selatan juga dihadiri Anggota Komisi IV DPR. RI, dapil Prov. Lampung, Sudin, serta Pjs, Gubernur dan Bupati Lampung Selatan, Zainuddin Hasan. Amran Sulaeman menyampaikan keinginan pemerintah agar seluruh masyarakat bisa mendapatkan sumber protein dengan murah.

“Negeri kita ini kaya, namun sering kita membuat segala sesuatu menjadi sulit, membuat masyarakat menjadi susah, atas arahan Bapak Presiden, kami membagikan gratis sperma sapi (Semen Beku) produksi bangsa sendiri, yang dulunya di ekspor dan di impor kembali setelah jadi sapi,” ujar Menteri Amran.

Amran menambahkan, hingga saat ini sejak tahun 2017 melalui Upsus SIWAB Kementan telah membagikan 4 Juta Ampul Sperma Beku Sapi kepada petani peternak agar memiliki sapi yang selama ini hanya bisa impor.

“Sapi limousin, simental dan brahman cross, sudah ada di kandang-kandang ternak petani, dalam usia 3 hingga 5 bulan sudah berharga 5 sampai 7 juta/ekor, kalau sapi lokal 1 sampai 2 tahun hanya berharga 10 juta, sangat jauh bedanya, ini yang dinamakan beternak cerdas, pemerintah harus mencerdaskan petani sesuai “Nawa Cita” Presiden, menghadirkan Negara dalam setiap persoalan Anak Bangsa,” ungkapnya.

Mentan menambahkan upaya percepatan peningkatan populasi sapi dan kerbau telah dicanangkan Kementan sejak tahun 2017 tersebut telah menunjukkan hasil yang sangat baik.

Secara nasional program tersebut sudah menerapkan Inseminasi Buatan (IB) sebanyak 5.027.120 ekor sapi, mengasilkan sapi bunting sebanyak 2.236.934 ekor, dan sebanyak 1.080.334 ekor sapi berhasil dilahirkan.

Kelahiran sebanyak seribu ekor sapi itu setara dengan Rp.7,56 triliun dengan asumsi harga 1 ekor pedet lepas sapih Rp.7 juta/ekor. Nilai yang sangat fantastis, mengingat investasi program pada tahun 2017 sebesar Rp.1.1 triliun.

“Ini bukan rencana, kita sudah jalankan dan kita bisa lihat hasil pengembangan sejak tiga tahun lalu,” tegas Amran.

Kementerian Pertanian juga sudah melakukan berbagai hal untuk mengedukasi petani dan melakukan pendampingan. Kementerian Pertanian juga telah menganggarkan biaya inseminasi buatan gratis.

“Sejak saya menjabat sebagai menteri, kami programkan inseminasi buatan gratis untuk seluruh rakyat Indonesia. Anggarannya per tahun kurang lebih dua triliyun. Itu perintah Bapak Presiden,” ungkapnya.

Mentan Andi Amran Sulaiman, menambahkan bahwa Indonesia, saat ini sudah Swasembada Protein, kita memiliki banyak sumber protein, bukan hanya daging sapi, masyarakat harus tahu bahwa sumber protein bisa dari berbagai hewani dan ikan.

Mentan menegaskan bahwa Indonesia saat ini sudah ekspor sejumlah komoditas ternak sehingga dapat dikatakan sudah masuk pada fase swasembada protein.

“Kita sudah ekspor ayam, sudah ekspor telur, sudah ekspor kambing. Sehingga bisa kita katakan, hari ini Indonesia sudah swasembada protein,” tandasnya.

Menurut Mentan, tujuan swasembada protein adalah meningkatkan jumlah kebutuhan protein untuk masyarakat Indonesia. Jika konsumsi produk komoditas peternakan meningkat, maka itu berarti usaha peternakan akan banyak diminati oleh masyarakat.

“Kita merubah mind set masyarakat bahwa protein tidak hanya dari daging sapi, tapi bisa dihasilkan dari ayam, telur, kambing, bebek dan seterusnya,” papar Amran.

Dari catatan, pada Maret lalu, Kementerian Pertanian telah melakukan ekspor perdana nugget ayam dengan jumlah sekitar 6,6 ton ke Negara Jepang, dan selain juga daging Wagyu telah kita ekspor ke Myanmar. April mendatang, Kementerian juga akan mendorong ekspor produk ayam olahan ke Jepang sebanyak 7 ton dari rencana 13,4 ton di tahun 2018 ini, lalu ke Timor Leste sebanyak 127,6 ton, dan DoC 10.000 ekor, serta PNG sebanyak 26,4 ton.

Tahun 2017, ekspor telur ayam tetas (hatching eggs), GPS dan PS broiler ke Myanmar sebesar 382,9 ton dengan nilai Rp. 56,56 Milyar. Selain itu, di tahunyang sama Ekspor Obat Hewan juga telah menembus 50 Negara yang tersebar di 4 Benua dengan nilai Rp27,674 triliun.

Peluang ekspor ke negara ASEAN dan Timur Tengah masih terbuka, khususnya komoditi kambing dan domba. Dalam waktu dekat ini, Kementerian Pertanian juga akan mendorong ekspor perdana ke Malaysia sebanyak 2.500 ekor domba dan kambing.

Pada acara panen pedet tersebut, Mentan Amran juga memberikan hibah kepada kelompok ternak sebanyak 100 ekor kambing dan 11.000 ekor doc ayam kampung unggulan baru. di Kabupaten Lampung Selatan, serta 10.000 ekor doc Ayam KUB, untuk Kabupaten Lampung Tengah. Bantuan juga diberikan berupa 1 unit pembuatan embung senilai Rp.175 juta, Total bantuan senilai Rp.1,5 milyar.