Menjaga Moralitas Pancasila

Memperkuat, memepertegas, dan memperkokoh Pancasila adalah merupakan suatu keniscayaan. Merupakan tugas kita semua menjadikan Pancasila sebagai sistem nilai bagi moral bangsa. Akhir-akhir ini, banyak dari kita yang merasa Pancasilais, namun perkataan dan perbuatannya menyimpang dari Pancasila.

Jika kita mengamati perilaku elit bangsa ini sungguh kita menyaksikan akrobat politik yang geli, lucu, bahkan sangat menggemaskan. Bagaimana elit politik di DPR melalui Pansus KPK menyerang dan menyudutkan KPK. Jika KPK dalam bekerja ditemukan menyalahi prosedur dan aturan mari kita perbaiki dan evaluasi. Tapi bukan untuk dibekukan atau dibubarkan.

Menjaga KPK sebagai lembaga penegak hukum yang independen merupakan tugas kita bersama. Bukan hanya tugas anggota DPR RI. Apakah serangan-serangan elit-elit politik di DPR RI terhadap KPK sudah sesuai dengan moralitas Pancasila. Ataukah elit-elit politik di negeri ini tidak menggunakan standar moral. Sehingga menganggap sudah bermoral. 

Mari kita jaga moralitas Pancasila sebagai bagian dari standar kita dalam bercakap, bersikap, dan bermasyarakat. Ataukah moralitas Pancasila hanya menjadi hiasan tanpa arti dan makna. Membangun bangsa tanpa menjaga moralitas, sama dengan merusak bangsa itu sendiri.

Di tengah-tengah perseteruan KPK dengan Pansus KPK–DPR RI, terdapat juga masyarakat yang berkeingunan mengganti ideologi Pancasila. Tentu hal ini tidak diperbolehkan dan bertentangan dengan semangat persatuan dan konsensus antar sesama anak bangsa.

Memperkuat, mempertegas, melembagakan, dan mengimplementasikan nilai moral Pancasila dalam kehidupan sehari-hari bukanlah sesuatu yang sulit. Namun juga bukan berarti mudah dan mulus tanpa hambatan. Tujuan utama memperkuat moralitas Pancasila adalah agar negara ini berjalan berdasarkan norma moral yang kokoh, agar kita tidak bercerai-berai.

Mungkin sebagian orang akan mencibir ketika kita bicara moralitas. Bagaimanapun kita jangan kendur dan menyerah dalam membangun, mengembangkan, menjaga, bahkan melestarikan nilai moral Pancasila. Nilai yang harus dijaga dan dilestarikan hingga kita mati.

Hal tersebut menjadi penting, karena jika moralitas Pancasila tidak dilestarikan dan diperkuat, maka bisa jadi akan punah atau tergantikan oleh ideologi lain. Oleh karena itu, moralitas Pancasila harus diperkuatsehingga menjadi ideologi yang abadi bagi bangsa Indonesia.

Perjalanan Pancasila sebagai penjaga moral bangsa dan sebagai dasar negara mengalami banyak ujian. Sejak Orde Lama, Pancasila sudah banyak yang merongrong, namun karena Pancasila merupakan ideologi yang juga berisi gerakan moral untuk mempersatukan semua komponen kekuatan bangsa, Pancasila masih tetap kokoh berdiri.

Di masa Orde Baru, Pancasila menjadi jargon Orde Baru dan dijadikan alat untuk menyingkirkan orang-orang yang anti-Pancasila. Pancasila disakralkan sehingga bagi siapapun yang mengkritik Pancasila dianggap megancam pemerintah. Pancasila bukan atau tidak dijadikan landasan moralitas berbangsa dan bernegara yang akhirnya Pancasila menjadi hampa dan tak bermakna.

Pada masa Orde Baru juga, Pancasila dilembagakan dengan melakukan Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila atau yang dikenal dengan P4. Dengan adanya P4 tersebut paling tidak masyarakat mengenal, mendalami, menghayati, dan mengimplementasikan Pancasila dalam kehidupan sehari-hari. Nilai-nilai luhur Pancasila seperti ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, kerakyatan, keadilan dan lainnya harus menjadi panduan yang implementatif.

Namun sayangnya nilai agung Pancasila tidak menyerap kedalam sanubari rakyat Indonesia. Dan nilai moralitas tidak menjadi landasan sehingga apa yang sudah dibangun oleh Orde Baru menjadi berantakan. Jangan sampai moralitas Pancasila hanya menjadi slogan dan jargon semata.

Orde Baru memang berhasil melaksanakan P4 keseluruh rakyat Indonesia. Namun tidak dibarengi dengan pertahanan moral bangsa yang kokoh dan kuat, tidak dibarengi dengan tingkat kesejahteraan masyarakat, dan juga keadilan di bidang politik. Orde Baru terlepas dari moralitas Pancasila.

Orde Baru tumbang dan digantikan dengan Orde Reformasi. Reformasi 1998 menjadikan Pancasila dalam persimpangan. Namun karena Pancasila adalah ideologi pemersatu. Walau Orde Barunya tumbang, tapi Pancasilanya utuh dan gagah berdiri. Pancasila menjadi sistem moral yang kuat dalam menjaga bangsa dari kehancuran.

Di masa reformasi saat ini Pancasila mengalami banyak ujian. Dengan tidak adanya P4, banyak masyarakat terlebih-lebih generasi milenial yang tidak mengenal Pancasila. Bahkan ada seorang artis, yang mengatakan bahwa salah satu tanda gambar dalam Burung Garuda, diartikan atau ditafsirkan sebagai “bebek nungging”, hal ini tentu berbahaya. Oleh karena itu, tugas kita bersama untuk memperkuat, menjaga, melestarikan, dan mengimplementasikan moralitas Pancasila dalam keseharian.

Jika kita mau konsisten memperkuat Pancasila sebagai dasar negara dan moralitas bangsa. Kerja-kerja pemerintah harus difokuskan untuk menjaga moralitas Pancasila. Penguatan nilai-nilai moral Pancasila tidak boleh diganggu oleh siapapun dan dalam keadaan apapun.

Kondisi politik dan ekonomi tidak boleh mengganggu fokus pemerintah dalam memperkuat dan memperkokoh nilai moral Pancasila. Pancasila merupakan bangunan yang kokoh dan tidak boleh ada orang atau sekelompok orang yang akan meruntuhkannya atau menggantinya.

Nilai moral Pancasila harus diperkuat dan dilestarikan. Bagi siapapun yang merongrong Pancasila, maka akan berhadapan dengan negara dan berhadap dengan kita semua yang menjadikan Pancasila sebagai dasar negara dan moralitas dalam berbangsa. Pancasila harus hidup dalam sanubari kita dan sanubari seluruh rakyat Indonesia.

Moralitas Pancasila akan abadi di bumi Indonesia tercinta ini. Apapun resikonya, kita harus menjaga dan melestarikannya, selama hayat masih dikandung badan. Mari kita jaga nilai moralitas Pancasila sebagai untuk meraih kejayaan bangsa. Hidup tanpa berlandaskan pada nilai-nilai moral, bagaikan hidup dialam binatang. Dan hidup akan indah jika kita menjaga nilai moralitas Pancasila dalam kehidupan.

Selamat menjaga moralitas. Agar bangsa ini tidak bablas.