Menakar Cawapres Jokowi Paling Potensial

MONITOR, Jakarta – Pemilu Presiden baru akan dilaksanakan pada 2019 mendatang, namun meski demikian sejumlah nama mulai bermunculan. Bukan nama-nama calon presiden yang hanya terkoptasi pada dua sosok yakni Jokowi dan Prabowo melainkan nama-nama yang digadang-gadang cocok menjadi orang nomor dua alias calon wakil presiden.

Politikus PKB yang juga Anggota DPR RI Maman Imanul Haq menyebut sejumlah nama yang muncul di bursa Cawapres Presiden Joko Widodo 2019 lebih baik dibanding muncul isu SARA. Menurut Maman, isu SARA akan muncul kembali menjelang Pilkada 2018 dan pemilu serentak 2019, seperti halnya pada Pilkada DKI Jakarta.

“Munculnya Ketum PKB Muhaimin Iskandar atau Cak Imin sebagai Cawapres, adalah dorongan relawan dan bukannya dari PKB. Karena relawan, jadi sifatnya partisipatif, terbuka, dan datangnya dari berbagai kalangan,” katanya di Gedung DPR RI, Senayan, Jakarta, Kamis (9/11/2017).

Diakui Maman, Presiden Jokowi telah berhasil membangun infrastruktur selama memimpin Indonesia, namun tak luput dari kekurangan, yaitu pembangunan sumber daya manusia (SDM) khususnya dalam membangun isu-isu agama, yang terus disoroti menjelang Pilkada maupun Pilpres saat ini.

Karena itu, lanjutnya, diperlukan Islam yang moderat, damai, dan melawan radikalisme. Menurutnya, hadirnya Cak Imin akan melanjutkan perjuangan Gus Dur tentang bagaimana mewujudkan Islam yang damai, tolerans, dan komitmen terhadap PBNU (Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, NKRI dan UUD NRI 1945).

“Jadi, kalau sebagai Cawapresnya Jokowi di 2019 itu memang dibutuhkan,” pungkasnya.

Sementara itu, Ketua DPP Demokrat Jansen mengatakan elektabilitas Agus Harimurti Yudhoyono atau AHY terus meningkat. “Kalau pada Maret 2017 mencapai 0,4 %, per Oktober ini tembus 14,3 %. Elektabilitas ini melampaui Cak Imin (1,1%), Gatot Nurmatyo, Anies Baswedan dan lain-lain itu lembaga survei Pollmark,” paparnya.

Dengan demikian kata Jansen, elektabilitas Jokowi akan tergantung kepada Cawapres yang akan dipilih.

“Kalau yang dipilih AHY, maka elektabilitas Jokowi akan makin naik,” ungkapnya

Ditempat yang sama, pengamat politik SMRC Sirojuddin menilai jika elektabilitas Jokowi terus meningkat, maka dipastikan Jokowi maju lagi untuk Pilpres 2019. Tapi, tidak demikian halnya dengan Prabowo, yang sudah mengikuti Pilpres empat kali, dan selalu kalah.

“Maka pertanyaannya; apakah Prabowo mau maju lagi atau tidak? Atau cukup sebagai king makers?” sambungnya.

Ia menambahkan, elektabilitas Jokowi saat ini jauh lebih baik dibanding saat SBY menjelang 2 tahun Pilpres 2007.

“Tapi, kita lihat pada Juni, Juli, dan Agustus 2018 nanti. Kalau elektabilitas Jokowi bertahan di 50 %, maka Jokowi akan leluasa memilih Cawapres,” jelasnya.

Menurut Sirojuddin, ada 3 kemungkinan Jokowi menentukan siapa Cawapres yang tepat.

“Pertama, kalau isunya ancamannya keamanan dari dalam dan luar negeri, maka Cawapresnya sangat mungkin dari militer,” katanya.

Kedua, kalau isunya terkait keprihatinan ekonomi, maka Cawapresnya diumungkinkan dari ekonom. Terakhir, ia tak memungkiri bisa saja isu SARA rentetan isu Pilkada DKI terus berlanjut, maka Cawapres yang dimungkinkan dari kalangan Islam moderat.  

“Jadi, tergantung pada isu yang berkembang menjelang Pilpres 2019,” imbuhnya.

Diketahui survei Indikator Politik Cawapres yang muncul justru yang tertinggi adalah Ahok, Gatot Nurmantyo, Sri Mulyani. Karena itu, menurut Sirojuddin, parpol perlu membaca keinginan masyarakat. Dimana pemilih di pilpres 2019 itu adalah 55 % berusia 17 – 38 tahun, dan yang melek internet sebesar 45%.

“Bisa muncul Cawapres dari kalangan muda,” pungkasnya.