Menag Ungkap Alasan Bangsa Indonesia Selalu Dukung Palestina

MONITOR, Jakarta – Sejak Presiden Amerika Serikat Donald Trump memutuskan untuk mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel pekan lalu, kecaman demi kecaman datang dari Pemerintah hingga masyarakat Indonesia. Upaya diplomatis antar negara pun telah dilakukan melalui forum-forum internasional, termasuk Konfrensi Tingkat Tinggi Luar Biasa (KTT-LB) Organisasi Kerjasama Islam (OKI) yang berlangsung di Istanbul, Turki, Rabu (13/12) lalu.

Berbicara mengenai hal itu, Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin menjelaskan alasan mengapa bangsa dan negara Indonesia memberikan perhatian yang begitu besar kepada Palestina. Bahkan sejak Presiden pertama hingga hari ini Indonesia tetap konsisten bersama bangsa Palestina untuk memperjuangkan kemerdekaannya.

Menurutnya, sebagai sebuah bangsa, bangsa Indonesia telah merasakan apa yang kini dirasakan bangsa Palestina, yakni dijajah oleh bangsa lain, yang kala itu dirasakan bangsa Indoneisa tiga setengah abad lamanya.

"Itu lah mengapa dalam pembukaan Undang-Undang Dasar kita, yang pertama dinyatakan oleh para Pendiri Bangsa bahwa 'kemerdekaan ialah hak segala bangsa'." ujar Menag Lukman saat menghadiri diskusi 'Indonesia Bersama Palestina' di Kantor Kemkominfo, Jakarta, Jumat (15/12). Ditegaskannya pula, bahwa penjajahan seharusnya telah hilang dari muka bumi, mengingat era globalisasi adalah saatnya antar negara saling bersinergi sebagai warga dunia.

Selain itu, lanjut Menag, sebagai bangsa yang dikenal religius, tentunya muncul rasa penolakan yang cukup besar ketika menjumpai pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) atas suatu bangsa terhadap bangsa lain. Hal itu lantaran pelanggaran HAM tidak dibenarkan dalam ajaran agama manapun.

Alasan lain yang membuat bangsa Indonesia begitu dekat dengan Palestina adalah Yerusalem, yang merupakan kota tiga agama besar, yakni Yahudi, Kristen dan Islam. Menurut Lukman, Indonesia sebagai negara bangsa dengan jumlah penduduk muslim terbesar di dunia, tentu memiliki ikatan yang kuat dengan Yerusalem, mengingat Masjidil Aqsa juga berdiri di kota tersebut.

"Dengan adanya Masjidl Aqsa itu sesuatu yang luar biasa, itu tidak saja tempat Rasulullah bertolak ketika melakukan Mi'raj, ketika bertemu dengan Tuhan, tetapi juga menjadi kiblat pertama umat Islam, sebelum kemudian diubah oleh Allah menjadi ke Masjidil Haram, menghadap ke Ka'bah," tegas Lukman seraya mengingatkan, Masjidil Aqsa juga merupakan masjid yang oleh Rasulullah, "kedudukannya hampir sama dengan Masjidil Haram dan Masjid Nabawi," tambahnya.

Tak kalah penting, tegas Lukman, Palestina yang kala itu diwakili oleh Mufti Besar Palestina Syekh Muhammad Amin Al-Husaini  pertama kali mengakui kemerdekaan Indonesia jauh sebelum negara lain mengakui. Ia pun mendesak agar Negara-negara Timur Tengah mengakui kemerdekaan Indonesia sehingga berhasil meyakinkan Mesir, kemudian diikuti oleh Suriah, Irak, Lebanon, Yaman, Arab Saudi, hingga Afghanistan 

"Perlu juga diingat, pada 6 September 1944, sebelum kita merdeka, bangsa Palestina diwakili oleh Mufti Besar Palestina pada saat itu, Syekh Muhammad Amin Husaini dan seorang saudagar kaya Palestina, Muhamad Ali Taher, mereka lah yang mewartakan, menyebarluaskan dukungan kemerdekaan bangsa Indoensia," tegasnya.

Untuk itu, pihaknya berharap, generasi muda dapat memahami sejarah dan makna keberpihakan bangsa Indonesia kepada Palestina yang telah dimulai sejak awal kemerdekaan hingga saat ini.