Membudayakan Tani untuk Pencapaian Nawa Cita Jokowi

"Pertanian dan Petani", dua kata yang selalu identik dengan lumpur kotor, terik matahari, miskin dan tidak berpendidikan. Bahkan banyak yang merasa rendah diri jika mendapat julukan "Petani". Hal ini merupakan realita yang terjadi ditengah masyarakat kita, bahkan telah menjadi stigma kalau tidak salah kita menyebutnya "Budaya" yang salah.

Seiring terbukanya kesempatan untuk meraih pendidikan yang lebih tinggi sejak tahun 1970-an hingga sekarang ini, muncul pemahaman bahwa lulusan perguruan tinggi tidak pantas bergelut dengan "Lumpur". Sarjana harus duduk di ruang kantor yang berpendingin serta memegang "Pena Mahal" serta berdasi dan kemeja putih bersih.

Pemahaman tersebut akhirnya membuat "Generasi Muda" angkatan kerja yang potensial berlomba-lomba meninggalkan desa eksodus untuk menjadi tenaga kerja di perkotaan. Tidak perduli profesi di perkotaan hanya menjadi buruh pabrik, buruh bangunan atau bahkan banyak yang menjadi pelaku kriminal asal bisa bermukim di Kota.

Era Pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla, yang menetapkan Nawacita sebagai visi Pemerintahan, membawa banyak perubahan dengan misi "Revolusi Mental dan Menghadirkan Negara" dalam setiap permasalahan yang dihadapi rakyat. Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman pun menjalankan visi dan misi sesuai Nawacita dengan menargetkan UPSUS PAJaLe sebagai sasaran utama, bukan memilih hal yang mudah.

Sektor pangan ini, secara keseluruhan menjadi problem terbesar saat memulai tugasnya. Andi Amran Sulaiman langsung memulai rapat maraton dengan jajaran kementerian pertanian, menyisir anggaran melakukan revisi dan memutuskan sesuai arahan Presiden. Merehabilitasi irigasi 3 juta hektar dalam 2 tahun. Kegiatan ini dilakukan berbarengan dengan penambahan bantuan alat mesin pertanian, mulai dari hand traktor, ricr transplanter, combine harvester, pompa air mulai dari ukuran 4 inch hingga 8 inch bahkan eskavator besar dan kecil.

Total Alat Mesin yang disediakan sekitar 80.000 unit tahun 2015 untuk mendukung Upsus PaJaLe dibagikan bibit padi, jagung dan kedelai hingga tahun 2016 120.000 unit alat mesin pertanian didistribusikan ke seluruh Indonesia. Uniknya, dalam tahun pertama dilakukan kontrak kerja bersama TNI, Bulog, Gubernur, Bupati/Kepala Dinas tingkat propinsi/kabupaten dan kota serta menetapkan harga dasar pembelian pemerintah.

Semua hal tersebut menjadi dinamika positif. Banyak anak muda mulai melihat aktivitas pertanian, ketertarikan pada alat mesin dan adanya jaminan harga dari pemerintah mulai mengubah cara pandang "Generasi Muda" terhadap sektor pertanian.

Sosok Mentan yang masih muda dengan latar belakang wirausaha tani dan penemu beberapa produk pertanian yang dipatenkan turut jadi pendorong perubahan visi generasi muda terhadap usaha tani. Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman, memiliki kemampuan orasi dan mampu memotivasi dalam setiap kesempatan di kampus-kampus dan organisasi kepemudaan. Hingga pada akhir 2016, muncul Organisasi Pemuda Tani, GEMPITA yang tidak berafliasi dengan "Ormas Politik". Pendiri dan penggagas Gempita muncul dari akar rumput dan murni karena kebutuhan akan pentingnya membangun kelompok dalam usaha tani.