Kementerian LHK Tengah Kaji Second Habitat untuk Badak Jawa

MONITOR, Jakarta – Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) RI, Wiratno menyatakan perlu ada rumah kedua atau second habitat bagi Badak Jawa selain di Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK). Sehingga, jika terjadi suatu hal yang membahayakan di TNUK, Badak Jawa di tempat lain masih bisa selamat dan tidak langsung punah.

Wiratno menuturkan, saat ini KLHK tengah mengkaji upaya tersebut. Saat ini telah dilakukan survey di beberapa lokasi, yaitu Cagar Alam (CA) Leuweung Sancang Garut, Suaka Margasatwa (SM) Cikepuh di Sukabumi, CA Rawa Danau Serang, BKPH Cikesik Sukabumi, CA Rawa Danau Serang, BKPH Cikesik di Pandeglang, dan BKPH Malingping Lebak Banten.

"Ya, ada program second habitat Badak Jawa. Kami kaji bersama dan lihat kemungkinan di Sukabumi yang paling prospek. Di SM Cikepuh karena luasnya cukup, keamanannya juga. Pakannya cukup di sana, sedang dikaji WWF, di sana harus aman akan ada satwa yang sangat kharismatik dan penting," ujar Wiratno.dalam.siaran pers Humas KLHK, Jakarta, Senin (25/9).

Pada kesempatan yang sama, mewakili Menteri LHK,  Dirjen KSDAE Wiratno juga secara resmi memberikan nama kepada empat anak Badak Jawa (Rhinoceros sondaicus) yang lahir pada tahun 2016. Empat ekor anak badak tersebut terdiri dari dua individu jantan dan dua individu betina.

"Keempat anak Badak Jawa ini diberi nama Prabu, Manggala, Irna, dan Mayang. Pemberian nama ini atas kesepakatan dari komunitas spesies," ujar Wiratno setelah menandatangani Deklarasi Hari Badak Sedunia serta merilis hasil monitoring badak jawa tahun 2016 di TNUK.

Wiratno menambahkan bahwa dari pantauan kamera trap pada tahun 2016, Taman Nasional Ujung Kulon saat ini memiliki 67 ekor Badak Jawa dengan komposisi 37 badak jantan dan 30 badak betina. Hal ini menunjukkan populasi Badak Jawa di TNUK masih mengalami perkembangbiakan yang alami. Adapun sebanyak 67 ekor badak tersebut terdiri dari kelas umur anak 13 ekor dan kelas umur remaja-dewasa 54 individu. Menurutnya, populasi badak bercula satu tersebut sangat terancam sehingga sejak tahun 2007 kementerian telah melakukan berbagai rencana aksi konservasi.

Berbagai kondisi Badak Jawa ini menjadi sebuah tantangan dalam pengelolaannya. Melalui peringatan WRD 2017, dukungan kepedulian semua pihak diharapkan semakin meningkat.  "Pemerintah, swasta, dan masyarakat sekitar BTN UK harus bekerja sama". tutup Wiratno.