Kementerian LHK Luncurkan Aplikasi Pengenal Jenis Kayu

MONITOR, Jakarta – Sebagai negara ketiga pemilik koleksi contoh  jenis kayu terbesar di dunia, setelah Amerika Serikat dan Belgia, kini Indonesia memiliki alat identifikasi kayu yang dapat memberikan informasi jenis hanya dalam hitungan detik. Hal ini disampaikan Kepala Badan Penelitian Pengembangan dan Inovasi (BLI) KLHK, Henry Bastaman, dalam soft launching aplikasi identifikasi jenis kayu di Jakarta (24/10/2017).

“Dalam perdagangan kayu, jenis kayu merupakan salah satu hal penting, karena jenis kayu akan menentukan kelompok kayu dan rupiah yang harus dibayarkan. Hadirnya alat identifikasi jenis kayu otomatis ini, merupakan suatu terobosan dalam mengidentifikasi kayu secara praktis dan mudah”, tutur Henry dikutip dari siaran pers kementerian LHK, Selasa (24/10).

Saat ini jumlah jenis kayu yang diperdagangkan di Indonesia, berdasarkan data License Information Unit (LIU) per November 2016, sebanyak 1.044 jenis. Seiring waktu, jenis kayu yang diperdagangkan bertambah, dan kurang lebih 226 jenis diantaranya belum terdata, serta belum termasuk 186 kelompok jenis yang ditetapkan melalui Keputusan Menteri Kehutanan No. 163/Kpts-II/2003, tentang Pengelompokkan Jenis Kayu Sebagai Dasar Pengenaan Iuran Kehutanan.

Oleh karena itu, BLI KLHK bekerjasama dengan Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti), membuat aplikasi berbasis data digital yang dapat memberikan informasi nama latin atau jenis, berat jenis, kelas kuat, kelas awet, klasifikasi perdagangan, dan rekomendasi penggunaan.

Kepala Pusat Penelitian Pengembangan Hasil Hutan (P3HH) BLI KLHK, Dwi Sudharto, menyampaikan bahwa, selama ini identifikasi kayu perlu memakan waktu cukup lama yaitu minimal satu minggu, karena ada 163 karakter yang perlu dicermati. “Dengan adanya alat ini, cukup satu detik saja, maka informasi kayu akan langsung diperoleh”, ujarnya.

Dijelaskan Dwi, basis data aplikasi ini menggunakan input data koleksi kayu yang dimiliki Xylarium BLI KLHK. “Xylarium menjadi salah satu rujukan identifikasi kayu di Indonesia, yang memilki lebih dari 45 ribu contoh kayu dari 3 ribu spesies kayu seluruh Indonesia, yang terkumpul sejak tahun 1915”, tuturnya bangga.

Sementara itu, mewakili Kemenristekdikti, Kepala Pusat Penelitian Informasi LIPI, Nurul Taufik Rohman, merasa bangga dapat terlibat dalam membantu menyelesaikan kendala identifikasi kayu yang terjadi selama ini, serta mempercepat proses identifikasi kayu itu sendiri.

“LIPI membentuk pusat inovasi untuk mengakselerasi hasil-hasil kajian LIPI, agar dapat digunakan oleh masyarakat. Saat ini sudah ada 130 paten terbesar di ASEAN, namun temuan-temuan ini perlu didukung regulasi. Selain itu, setelah dipatenkan, perlu ditentukan standar lebih lanjut," tambahnya.