Kedekatan Kapolri dengan Ulama dinilai Tentramkan Suasana

MONITOR, Jakarta – Kapolri Jenderal Tito Karnavian kembali menuai apresiasi atas langkahnya bermuhibah ke para ulama, ke ormas Islam dan ke kalangan pesantren. Kali ini apresiasi datang dari pengamat sosial UIN Jakarta, Dr. Siti Napsiyah. 

Dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN ini menyatakan, apa yang dilakukan Kapolri menentramkan semua pihak. Kesan seolah kapolri jauh dengan kalangan Islam pupus dan pernyataan-pernyataan kapolri yang fokus pada persatuan bangsa dimana ummat Islam adalah bagian dari bangsa ini, dapat dipahami.

Menurutnya, pada beberapa kesempatan itu, Tito tegas menyampaikan sikapnya bahwa persatuan bangsa adalah segalanya, sehingga penting bagi ummat Islam untuk tidak terpecah-pecah, tidak mudah diadu domba, tidak mudah dihasut, termasuk mau ber-tabayyun atas informasi yang masuk dan bijak menggunakan sosial media.

Alumni Mc. Gill University Kanada ini mencontohkan, ceramah Tito di hadapan pengurus Persatuan Tarbiyah Islamiyah (Perti), di SMK Islam Perti, Jalan Tawakal Raya, Jakarta Barat, Sabtu (3/3). Tito meyatakan pentingnya melakukan verifikasi atas isu yang beredar di sosial media agar tidak menyebabkan keresahan. Seperti adanya 45 isu penyerangan ulama tapi hanya 3 yang benar.

“Pak Tito menerangkan secara gamblang alur kasusnya, mana yang benar, mana yang hoax. Pesannya sampai, betapa setiap isu jika tidak ditanggapi dengan cepat bisa berujung kisruh. Itu karena power of social media,” ujarnya.

Terkait dugaan kemungkinan adanya upaya sistematis di balik kasus penyerangan terhadap ulama, Jendral Tito dapat mengerti. Hal itu dikatakannya saat ceramah di hadapan jemaah Muhammadiyah saat pengajian di Gedung Pusat Dakwah Muhammadiyah, Jl Menteng Raya, Jakarta Pusat, Jumat (9/3). 

Menurutnya jangankan rakyat, polisi saja bingung dengan tiga kasus penyerangan ulama yang pelakunya sama-sama orang tak waras dan kejadiannya berdekatan waktunya. Tito menjelaskan, sebenarnya peristiwa tersebut adalah peristiwa sepintas. Tapi di media sosial dibumbui, lalu disusul kasus-kasus rekayasa seolah ada serangan sistematis kepada para ulama.

Tito menyebut, apa yang terjadi di empat lokasi yakni dua lokasi di Jawa Barat yaitu di Cicalengka dan Ciamis; Kediri, Jawa Timur; dan Balikpapan, Kalimantan Timur. Setelah diselidiki dan dilakukan rekonstruksi, ternyata itu hanya rekayasa. Keempatnya telah mengakui bahwa kejadian itu rekayasa.

“Jadi penyerangan sistematis terhadap para ulama itu tidak pernah ada. Itu hanya dibuat-buat. Lagi pula, siapa yang berani menyerang ulama, akan berhadapan dengan saya,” ujarnya saat itu.