Jonan dan Basuki Disebut Sebagai Ujung Tombak Kabinet Pasca Reshuffle Jilid III

MONITOR, Jakarta – Ketua Presidium Perhimpunan Masyarakat Madani (PRIMA) Sya'roni mengatakan, reshuffle kabinet jilid III Pemerintahan Joko Widodo yang ditandai dengan masuknya Idrus Marham di kursi Menteri Sosial, tak banyak memberikan perubahan.

Pasalnya, kata Sya'roni, selain karena pergantian Mensos tersebut karena pengunduran diri Khofifah Indarparawansa yang maju dalam Pilkada Jawa Timur, ujung tombak Pemerintahan Jokowi tetap jatuh pada dua menterinya guna mendongkrak kepuasan masyarakat.

"Formasi kabinet yang tidak banyak berubah menjadikan Jokowi tetap menempatkan dua menterinya sebagai ujung tombak. Yaitu Menteri ESDM Ignasius Jonan dan Menteri PUPR Basuki Hadimulyono," kata Say'roni dalam keterangan tertulis yang diterima MONITOR, Rabu (24/1).

Menurutnya, program kedua menteri tersebut terbukti mendokrak kepuasan rakyat terhadap kinerja kabinet. "Menteri ESDM misalnya, mengandalkan program satu harga BBM di seluruh wilayah Indonesia. Selain itu, kementerian ini juga berhasil menjaga kestabilan harga BBM," tandasnya. Sementara Menteri PUPR dinilai positif dalam pembangunan infrastruktur, misalnya target penambahan jalan tol dan rumah subsidi.

Setelah reshuffle jilid III ini, lanjut Sya'roni, para menteri kini bisa mulai tenang dan fokus bekerja, lantaran ia menduga reshuffle ini sebagai yang terakhir di pemerintahan Jokowi-JK kecuali menjawab kejadian luar biasa.

"Formasi Kabinet Kerja hasil reshuffle III merupakan the dream team yang dikehendaki oleh Jokowi. Sukses tidaknya pemerintahan Jokowi tergantung kinerja para menteri dalam sisa waktu 1,5 tahun ke depan. Bahkan tiket Jokowi untuk melanjutkan ke periode kedua juga sangat tergantung pada gebrakan kabinet yang dibesutnya," pungkasnya.