IPW: Kasus Neraka Brexit Jangan Sampai Terulang di Mudik 2017

Monitor, Jakarta- Antisipasi Kepolisian Republik Indonesia (Polri) terhadap jalur mudik di wilayah Jawa Tengah patut diapresiasi karena sudah cukup maksimal. Kapolri Tito Karnavian sepertinya tidak mau kasus "neraka Brexit" di musim mudik 2016 terulang, dimana arus mudik terjebak macet puluhan jam akibat crowded di Pintu Tol Brebes Timur.

Seperti diketahui, 17 pemudik tewas akibat kelelahan akibat "neraka Brexit". Para korban tewas tanpa upaya pertolongan maksimal dari pemerintah sebagai pengelola jalan tol, padahal beberapa bulan sebelumnya Presiden Joko Widodo mengatakan pintu tol Brebes Timur menjadi solusi bagi pemudik karena akan memperlancar arus mudik. 

"Bagaimana pun kasus 'neraka Brexit' tidak boleh terulang lagi di mudik 2017 ini," Kata Ketua Presidium Indonesia Police Watch (Neta S Pane) dalam siaran pers nya, Selasa (13/6). 

Neta mengatakan, upaya antisipasi maksimal sudah dilakukan Polri bersama Departemen Perhubungan dan pemda setempat. Namun IPW mencatat, antisipasi maksimal untuk arus mudik itu hanya dilakukan di jalur tol, lebih khusus lagi di jalur keluar di kawasan Jawa Tengah. Sementara di jalur jalan arteri dan di jalur pintu keluar Jakarta, sepertinya terabaikan. 

"Padahal jalur keluar arus mudik di wilayah ibukota Jakarta ibarat 'lingkaran setan'. Di jalur tol, jalannya menyempit seperti tutup botol, sementara jalur arteri tidak terurus dengan maksimal, sehingga tidak layak dijadikan sebagai jalur alternatif mudik," ungkapnya. 

Catatan IPW menunjukkan, Jakarta sebenarnya memiliki 4 jalur pintu keluar menuju jalan arteri Jalur Pantura. Yakni Jalan Pulogadung-Bekasi, Jalur Klender, Jalur Kasablanka dan Jalur Kalimalang. Tapi keempat jalur ini sangat tidak layak karena tidak pernah diurus secara serius oleh pemerintah. Jalur Kalimalang masih rusak parah akibat pembangunan jalan tol. Namun keempat jalur ini menjadi jalur utama bagi pemudik bersepeda motor. 

"Ironisnya, tidak satu pun ada pejabat pemerintah yang melakukan sidak untuk mengantisipasi kesiapan keempat jalur mudik, jalan arteri ini. Jalur alternatif ini tidak terurus dan terlupakan, sehingga dikhawatirnya menyimpan kerawanan tersendiri bagi pemudik," tuturnya. 

Menurut Neta, pemerintah dan Polri rupanya lebih fokus pada jalur mudik tol. Akibatnya, Jalan Tol Jakarta Bekasi pun menjadi andalan jutaan pemudik untuk keluar dari ibukota. Padahal jalur tol itu, saat ini kondisinya "bermasalah" dengan adanya pembangunan monorel. 

"Sehingga bisa dipastikan Jalur Mudik Tol Jakarta Bekasi akan bermasalah. Sebab diserbu jutaan pemudik dari berbagai arah, mulai dari jalur arteri Cawang, jalur Tol Dalam Kota, Tol Tanjung Priok, Tol Jagorawi dan Tol JOR," terang Neta. 

Kondisi ini dikhawatirkan Neta akan membuat arus mudik crowded dan stagnan, yang akan berimbas pada kemacetan parah di wilayah kota Jakarta. Artinya, jika di musim mudik 2016 terjadi "neraka Brexit", di musim mudik 2017 dikhawatirkan terjadi "neraka Jakarta Bekasi". 

"Ironisnya, situasi ini belum diantiasipasi pemerintah maupun Polri. Sebab aparatur lebih fokus ke pintu keluar pemudik di Jawa Tengah dan ancaman crowded di pintu masuk pemudik cenderung terabaikan," tambahnya. 

IPW berharap, jika di musim mudik 2017 terjadi lagi tragedi seperti di musim mudik 2016, harus ada pejabat yang bertanggung jawab, yakni dipecat atau mengundurkan diri. Tidak seperti pada kasus "neraka Brexit" 2016 tidak ada satu pun pejabat yang bertanggung jawab, padahal ada 17 pemudik tewas akibat macet puluhan jam di Brebes Timur. 

"Bahkan pengusutan terhadap kasus 'neraka Brexit' tidak pernah dilakukan Polri hingga kini. 'Neraka Brexit' yang mengakibatkan 17 pemudik tewas dianggap sebagai peristiwa biasa, ironis memang," pungkasnya.