Indeks Gini 2017 Disoroti DPR

MONITOR, Jakarta – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat indeks gini (tingkat ketimpangan pendapatan secara menyeluruh) 2017 di Indonesia mencapai 0,39. Data itu sontak menjadi sorotan Komisi Bidang Keuangan dan pembangunan nasional di DPR.
 
Dikatakan Anggota Komisi XI DPR RI Heri Gunawan bahwa data tersebut merupakan peringatan terhadap pemerintah untuk lebih memperhatikan pertumbuhan ekonomi masyarakat kecil. Sebab, hal ini bisa memunculkan kecemburuan sosial di masyarakat.

“Itu adalah warning bahwa pertumbuhan ekonomi hanya dinikmati oleh sebagian kecil orang. Satu persen orang menguasai 39 persen pendapatan nasional. Kalau ini tidak segera dibereskan, maka bisa memicu kecemburuan sosial yang lebih dalam.” ujarnya di Kompleks Parlemen, Senaya, Jakarta, Senin (9/10).

Heri menambhkan, saat ini pertumbuhan ekonomi Indonesia juga masih belum mampu menciptakan kesempatan kerja yang lebih besar. Setiap satu persen pertumbuhan ekonomi hanya mampu mencetak 40 ribu kesempatan kerja. 
Menurut Heri, ini angka yang amat rendah. Padahal, Pasal 27 Ayat (2) UUD 1945 menyebutkan bahwa “Tiap-tiap warga negara berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak”.
 
Di sisi lain, Indonesia adalah negara dengan populasi usia muda dan produktif yang besar. Jumlah warga negara yang berumur di bawah 40 tahun sebesar 60 persen. Mereka adalah warga negara yang punya energi besar. Bila pemerintah gagal menanganinya dengan baik—diberikan pendidikan yang baik dan pekerjaan yang layak—maka itu bisa jadi ancaman besar yang sewaktu-waktu bisa meledak. Energi besar tapi tak mampu ditangani dengan layak.
 
Dalam perspektif politik, lanjut politisi dari dapil Jabar IV ini, potensi manusia Indonesia yang terdidik dan hak-hak ekonominya yang terpenuhi dengan baik, bisa menyetabilkan kondisi politik di Tanah Air. Masyarakat pun jadi lebih bahagia, tenang, dan damai.

“Tapi, jika pendidikannya terabaikan sebagaimana data yang ada, yaitu rata-rata hanya di bawah 8 tahun (SMP), maka sudah pasti mereka bisa terjebak pada hal-hal yang tidak produktif,” ujar Heri.