Gradasi Penentuan Sekjen Partai Golkar

Awal bulan Desember 2017 ini, Partai G (PG) melewati tahapan sangat bersejarah. Dengan kedewasaan berdemokrasi, partai ini sepakat mengganti SN yang sudah di balik terali besi KPK, sebagai Ketum PG melalui proses demokratis. Lewat Munaslub, AH ditetapkan menjadi nomor satu di partai tersebut dan sekaligus memberikan wewenang penuh menyusun "kabinetnya" di DPP PG.

Salah satu faktor membuat PG lebih demokratis dibanding  partai lain di negeri ini sebenarnya karena tidak adanya tokoh sentral. Namun ketiadaan tokoh sentral tersebut sekaligus menciptakan sejumlah tokoh kuat pada faksi-faksi di partai ini. Para tokoh ini menjadi aktor politik yang sangat berpengaruh dalam dinamika politik internal di tubuh PG.

Oleh karena itu, tidak heran para tokoh ini bisa saja memainkan peran dalam pembentukan kepengurusan DPP, khususnya penentuan Sekjen, sebagai orang kedua di PG.

Sejauhmana peran yang dimainkan oleh para tokoh tersebut, menurut saya, dapat dilihat dari salah satu dari enam gradasi berikut.

Gradasi pertama, sama sekali menghargai keputusan Munaslub yang memberikan formatur tunggal kepada AH sebagai Ketum terpilih. AH mempunyai wewenang penuh menyusun kepengurusan DPP PG. Para senior dan  elit partai sama sekali tidak mencanpuri apalagi "merecoki" Ketum terpilih menyusun kepengurusan DPP PG dua tahun ke depan.

Gradasi kedua, memberikan masukan. Pada tingkatan ini hanya menyampaikan pemikiran saja tentang susunan kepengurusan DPP PG. Jadi, sifatnya hanya memperkaya wacana, yang disampaikan secara terbuka melalui media massa. Gradasi kedua ini hanya ingin kepengurusan DPP PG lebih baik ke depan.

Gradasi ketiga, berupa saran. Gradasi ini lebih kuat dari gradasi kedua. Sifatnya sudah memberikan arternatif susunan kepengurusan DPP PG disertai dengan plus – minus. Argumentasi yang dibangun sudah mengarah pada sosok tertentu pada posisi tertentu. Gradasi ini masih disampaikan lewat wacana publik untuk membentuk opini.

Gradasi keempat memberi rekomendasi. Pada gradasi ini sudah memberikan kriteria yang harus dipenuhi untuk menduduki posisi tertentu di kepengurusan DPP PG. Kriteria tersebut  sudah mengarah pada satu atau dua sosok tertentu untuk memegang posisi tertentu di DPP PG. Rekomendasi ini lebih cenderung disampaikan di panggung belakang politik. Biasanya disampaikan lewat pihak ketiga.

Gradasi kelima, titipan. Pada gradasi ini sudah menyampaikan nama secara eksplisit kepada Ketum AH untuk masuk dalam kepengurusan DPP PG. Bila tokoh yang menitip tersebut sangat berpengaruh, maka orang yang dititipkan tersebut diposisikan pada jabatan strategis seperti Sekjen atau Bendahara partai. Oleh karena itu, kantong kiri, kanan dan celana Ketum bisa saja sudah penuh titipan.

Gradasi keenam, tekanan. Pada gradasi ini memenuhi unsur gradasi titipan namun sudah disertai dengan posisi tawar. Biasanya simbol yang dimainkan adalah, bila bukan sosok yang disodorkan tidak diakomodir oleh Ketum terpilih, maka akan terjadi sesuatu kemudian hari.

Dari enam gradasi tersebut, semakin tinggi tingkat gradasinya, dari gradasi pertama ke gradasi keenam, maka semakin buruk perwujudan nilai demokrasi dalam penentuan kepengurusan DPP PG di bawah kepemimpinan AH.

Karena itu, sebaiknya penentuan kepengurusan DPP PG berada pada gradasi pertama sesuai dengan hasil Munaslub. Atau paling tinggi hanya pada gradasi kedua yaitu hanya memberikan masukan agar PG lebih baik ke depan.

Untuk itu, sebaiknya semua keder PG lebih fokus pada tuntutan capaian kepengurusan PG dua tahun ke depan di bawah kepemimpinan AH daripada menghabiskan energy penetapan kepengurusan DPP PG. Sebab, susunan kepengurusan sudah menjadi rana Ketum terpilih.