Diplomasi Nuklir untuk Perdamaian

MONITOR, Jakarta – Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohamad Nasir menerima kunjungan kehormatan dari Dr. Darmansjah Djumala, Duta Besar RI untuk Austria dan Jazi Eko Istiyanto Slovenia/Wakil Tetap RI untuk PBB.

Kunjungan khusus ini dilakukan sehubungan dengan persiapan Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemristekdikti), BATAN dan BAPETEN pada tanggal 5-7 Februari di Indonesia.

Dalam pertemuan tersebut, kali ini mereka membahas mengenai pentingnya Indonesia untuk berani memutuskan akan ‘Go Nuclear’ dengan membangun PLTN (Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir) atau tidak.

“Keputusan ini tentu saja akan mempengaruhi pendapat masyarakat Indonesia yang  sangat luas, yang kemungkinan belum mengenal pentingnya dan amannya berbagai teknologi nuklir untuk maksud damai tersebut," ujar Mohamad Nasir saat pertemuan di Gedung Kemenristek, Jalan Jenderal Sudirman Pintu Satu, Senayan, Jakarta Pusat, Selasa (31/1).

Kemenristekdikti, bersama-sama dengan BATAN, BAPETEN, terutama dalam tiga tahun terakhir, terus berupaya untuk mensosialisasikan pentingnya aplikasi teknologi nuklir untuk maksud damai ini.

“Yang sudah terbukti dapat mendukung bidang-bidang pembangunan antara lain sepeti sektor kesehatan, pertanian, perikanan, lingkungan dan energi,” tambah Mohamad Nasir. 

Dalam kunjungannya ke Indonesia minggu depan, Direktur Jenderal IAEA, Yukiya Amano, juga melakukan pertemuan bilateral dengan Mohamad Nasir, dengan membuka kegiatan pertemuan ‘Stakeholders meeting of Tempe Project’ yaitu salah satu program IAEA di Indonesia. 

Perlu diketahui, pertemuan ini juga dihadiri oleh Kepala BAPETEN (Badan Pengawas Tenaga Nuklir) Efrizon Umar, Deputi bidang Sains dan Aplikasi Teknologi Nuklir, BATAN (Badan Tenaga Nuklir Nasional), dan Johana selaku Indonesian Technical Cooperation National Liason Officer (TC NLO)