Di Hadapan Mahasiswa ITS, Arcandra Bicara Skema Gross Split

MONITOR, Surabaya – "Siapa yang percaya Indonesia kaya migas (minyak dan gas bumi)?" Pertanyaan tersebut dilontarkan Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arcandra Tahar kepada mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) yang hadir pada gelaran Migas Goes To Campus (MGTC) di Fakultas Teknologi Industri, ITS, Surabaya, Jumat (24/11). Beberapa mahasiswa pun dengan cepat mengangkat tangannya untuk memberi pendapat bahwa Indonesia kaya migas. 

Faktanya, Indonesia saat ini memiliki cadangan minyak terbukti sebesar 3,3 miliar barel. "Posisi cadangan terbukti Indonesia dibandingkan negara lain, di bawah ya, peringkat 29," ujar Arcandra. 

Arcandra kembali bertanya, jika Indonesia memproduksi minyak kita 800 ribu barel per hari (bph) konstan sepanjang tahun, apa yang akan terjadi dengan 3,3 miliar barel tersebut? Pertanyaan Arcandra pun kembali dijawab. "Sebelas tahun akan habis, Pak," ujar salah satu mahasiswa. 

"Ini yang harus kita koreksi, dalam sebelas tahun kita sudah tidak mampu lagi mengambil oil (minyak), bukan habis. Karena apa? Kemampuan manusia sekarang untuk mengambil oil itu baru sekitar 30% sampai 50%, separuh lagi masih di dalam (perut bumi). Belum ada teknologi yang mampu mengambil (minyak) 100%. Belum ada. Sampai suatu saat nanti anak cucu kita mampu mengembangkan teknologi mengambil oil sampai 100%. Jadi tidak habis," terangnya. 

Usai memberikan pertanyaan, Arcandra melanjutkan penjelasan mengenai pengelolaan migas di Indonesia. Dirinya menilai, saat ini sistem pengelolaan migas di Indonesia tidak efisien, karena membutuhkan waktu hingga 15 tahun dari eksplorasi hingga akhirnya berproduksi. Kemudian Arcandra pun memperlihatkan data yang menunjukkan bahwa lifting minyak bumi yang selama beberapa tahun terakhir cenderung mengalami penurunan.

"Kita memproduksikan minyak segini (sambil menunjuk kurva produksi minyak bumi yang sebesar 1,4 juta bph di 1994 menjadi 800 ribu bph di 2016). Sementara kebutuhan kita itu makin lama makin naik. Ini production kita makin lama makin turun, makin turun, makin turun, sampai 2015. Tahun 2016 kita berhasil naikkan. Tahun ini perkiraannya kita masih di level 800.000 bph Kalau tidak ada usaha yg signifikan, maka ini akan turun," ungkapnya. 

Arcandra memulai pembahasan Gross Split dengan perumpamaan pemilik sawah (negara) dan investor penggarap sawah. Jika dengan cost recovery, bagian keuntungan pemilik sawah lebih kecil daripada yang diperoleh penggarap sawah. Sedangkan jika menggunakan sistem Gross Split, pemilik sawah lebih diuntungkan. Belum lagi dengan adanya perdebatan soal cost (biaya) yang sebenarnya, yang kerap kali berbeda antara persepsi investor dan negara.

"Terus apa keuntungan Gross Split ini bagi si penggarap? Ngapain saya ubah jadi gross split kalau dengan cost recovery saya banyak keuntungan?" tanya Arcandra memancing perhatian para mahasiswa. 

Menurutnya, sistem Gross Split ini memangkas birokrasi. "Kalau cost recovery harus meminta persetujuan kepada SKK Migas, prosesnya lama dan berbelit-belit. Kalau Gross Split tidak, tidak perlu meminta izin, karena cost investor yang menanggung," jelasnya.

Arcandra menunjukkan grafik perbandingan Struktur Porsi Penerimaan Negara dan Cost Recovery. Dalam grafik tersebut terlihat bahwa perkembangan cost recovery tahun 2006 hingga 2016 semakin meningkat, sedangkan penerimaan negara semakin kecil. "Kenapa kita beralih ke gross split? Selama ini, dari tahun 1997 sampai 2014, selalu penerimaan Pemerintah lebih tinggi daripada cost recovery. Namun demikian karena oil jatuh harganya, (tahun) 2015 ini cost recovery lebih besar daripada penerimaan," terang Arcandra. 

Arcandra memaparkan tiga prinsip Skema bagi hasil Gross Split, yakni pertama, Certainty (kepastian), di mana parameter pembagian insentif jelas dan terukur. Kedia, Simplicity (sederhana), yakni mendorong bisnis proses Kontraktor Kontrak Kerja Sama (K3S) migas dan SKK Migas menjadi lebih sederhana dan akuntabel; dan terakhir, Efficiency (efisien), yakni mendorong K3S dan industri penunjang migas untuk lebih efisien. 

Selain itu, tiga manfaat utama dari konsep bagi hasil Gross Split ini adalah memberikan hasil keekonomian yang sama atau bahkan lebih baik dari Skema Cost Recovery, mempercepat 1 hingga 2 tahun tahapan pengembangan lapangan, karena sistem pengadaan yang mandiri dan tidak memerlukan persetujuan AFE (Authorization For Expenditure) di SKK Migas; dan terakhir mendorong Industri migas lebih kompetitif dan meningkatkan pengelolaan Teknologi, SDM, Sistem dan efisiensi biaya operasi.

Jamkrindo-Jaminan Kredit Indonesia