Bambang Soesatyo, Sosok Enigmatik Nan Kontroversial

MONITOR, Jakarta – Partai Golkar akhirnya memilih Bambang Soesatyo (Bamsoet) sebagai Ketua DPR, menggantikan Setya Novanto. Penunjukan Bamsoet, disebut-sebut merupakan keputusan Ketua Umum Golkar Airlangga Hartarto tanpa intervensi siapapun, termasuk Presiden Joko Widodo (Jokowi). 

Sebelum Bamsoet terpilih, sejumlah nama politisi senior sempat beredar diantaranya Sekretaris Fraksi Golkar Agus Gumiwang Kartasasmita, Ketua Banggar DPR Aziz Syamsuddin, hingga Ketua Komisi II DPR Zainudin Amali. Rencananya, siang ini politisi 55 tahun tersebut akan diambil sumpah.

Lantas seperti apa rekam jejak Bamsoet?

Bambang Soesatyo, politisi kelahiran Jakarta 55 tahun silam ini tercatat menempati sejumlah posisi struktural di beberapa organisasi. 

Karirnya cukup melejit, mulai dari Ketua Umum Badan Perwakilan Mahasiswa tahun 1983 sampai 1984, Pemimpin Redaksi Majalah Universitas Jayabaya di tahun 1984 dan Wakil Sekjen Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam tahun 1988.

Selanjutnya, di tahun 1993 ia menjabat Ketua Kadin DKI Jakarta Bidang Pertahanan, Ketua Dewan Pembina Ikatan Pers Pemuda Indonesia (IPPI) tahun 1998, Ketua Badan Pengurus Pusat HIPMI tahun 2001 sampai 2005, Wakil Bendahara Umum DPP Golkar tahun 2009 sampai 2015, dan Presidium Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI) Pusat tahun 2012 sampai 2015.

Tak hanya organisasi, Bamsoet juga mapan dalam karir profesinya. Ia mengawali karirnya di industri media dan jurnalistik di 1985 menjadi wartawan pada Harian Umum PRIORITAS. Kemudian pada tahun 1991, Bamsoed dipercaya menjadi Pemimpin Redaksi Majalah INFO BISNIS dan di 2004 menjadi Pemimpin Redaksi Harium Umum Suara Karya.

Karir politik Bamsoet juga cukup cemerlang. Ia mulai bergabung di Partai Golkar di tahun 2008 dan menjabat sebagai Wakil Bendahara Umum Dewan Pimpinan Pusat. 

Menuju Pemilu 2009, suami Lenny Sri Mulyani ini berhasil menduduki kursi Anggota DPR RI dari Fraksi Golkar dengan Dapil Jawa Tengah VII (Banjarnegara, Kebumen, Purbalingga). Pada Pemilu 2014, ia pun terpilih kembali dengan perolehan suara sebanyak 57.235 suara.

Bamsoed berhasil mendapatkan posisi sebagai Sekretaris Fraksi Golkar DPR-RI serta anggota dari Komisi III. Akan tetapi, pada Januari 2016, ia melepaskan posisi sebagai Sekretaris Fraksi dan mendapatkan tanggung jawab sebagai Ketua Komisi III DPR-RI.

Sepak Terjang di DPR

Bambang Soesatyo adalah figur yang enigmatik dan kontroversial. Dalam beberapa kesempatan, ia selalu memunculkan pernyataan-pernyataan cukup tegas di media massa. Seperti komitmennya yang kuat dalam memberangus korupsi. 

Apalagi saat mengusulkan pembentukan Panitia Khusus (Pansus) Hak Angket Bank Century, 1 Desember 2009, nama Bamsoet seketika melejit. Ia sangat kritis dalam menguraikan pandangan mengenai sejumlah dugaan kejanggalan dan keterlibatan pihak-pihak terkait pencairan dana talangan kasus Bank Century.

Di sepanjang tahun 2015, ia fokus mengawal drama 'Papa Minta Saham' hingga di tahun 2016 Bamsoet juga tetap mengkritisi kinerja sejumlah lembaga negara yang bermitra dengan Komisi III DPR, serta mengawal kasus hukuman mati bandar narkoba "Fredy Budiman".

Sampai pada tahun 2017, politisi Golkar ini sempat diduga terlibat dalam kasus mega korupsi e-KTP yang kini menyeret eks Ketua DPR Setya Novanto. Bersama rekan-rekan di Komisi III, ia membersamai terbentuknya Pansus Angket KPK.