Agar Liburan Bisa Ramah Anak, Perhatikan Hal-hal Berikut Ini

MONITOR, Jakarta – Liburan adalah masa petualangan, masa yang tepat bagi anak untuk mengenal hal-hal baru. Namun studi Oliver James, psikolog anak, justru menemukan bahwa anak sesungguhnya mendambakan konsistensi dan repetisi ketika melalui waktu liburan mereka.

Terlebih bagi anak-anak yang masih belia, mereka membutuhkan rasa aman yang bisa terpenuhi manakala mereka berada di tempat yang mereka kenal dengan baik (dekat secara emosional). Di tempat semacam itulah anak sudah mengidentifikasi apa yang mereka inginkan, mereka sukai, dan apa yang ingin mereka jauhi.

Menurut Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI), Orang Tua harus senantiasa mengamati tanda-tanda stress anak  dengan takar kadar petualangan agar tetap bisa dilalui anak secara adaptif. Pahami bahwa anak butuh adaptasi, dan masing-masing anak punya pola serta tempo adaptasinya masing-masing.

Selain itu, LPAI juga menyoroti soal tugas dari sekolah kepada anak-anak.

"Kata orang, tugas dari sekolah akan memberikan manfaat maksimal liburan bagi anak. Faktanya, waktu belajar anak sudah sangat panjang. Apalagi berkat internet, jam belajar tidak lagi sebatas di sekolah. Belajar, terlebih yang berfokus pada kognisi, seolah aktivitas tak berkeputusan. Itu meletihkan bahkan memuakkan," ujar Henny Roesmiati, Sekjen LPAI dalam rilis kepada MONITOR, Jumat (24/6).

Untuk itu LPAI memnita kepada para orang tua lebih baik jika selama liburan anak dibebaskan dari tugas sekolah.

"Biarkan anak lebih asyik dengan aktivitas motoriknya. Bebaskan anak dari keterkungkungan berpikir bahwa yang nomor satu adalah sekolah, sekolah, dan sekolah," tambahnya.

Selain yang tersebut diatas, berikut beberapa hal yang dianggap perlu diperhatikan orang tua agar tidak terjadi Liburan Tidak Ramah Anak.

Pesta Kuliner

Kata orang, liburan adalah sekaligus pesta kuliner. Kenyataannya, di samping kecelakaan lalu lintas, gangguan pencernaan adalah masalah utama yang membuat anak-anak masuk ke instalasi kesehatan.

Terlebih bagi anak yang sudah ikut berpuasa Ramadhan, makan jor-joran begitu datang liburan bisa membuat organ dalam terguncang.

"Atas dasar itu, wahai bapak emak, jadilah panutan bagi anak tentang pola makan sehat dan kadungan makanan halal bernutrisi. Plus, cuci tangan dengan sabun ya. Satu lagi, jangan lupa berdoa sebelum dan sesudah makan. Oya, sudah punya asuransi kesehatan, belum?" 

Bangun Kepercayaan kepada Anak

Kata orang, semasa liburan keagamaan, anak-anak menghabiskan waktu untuk kegiatan-kegiatan yang lebih sarat akan warna kekeluargaan. Padahal, ketika orang tua asyik dengan kegiatan mereka dan anak-anak–terlebih remaja–diizinkan untuk mencari kesibukan sendiri, maka meninggilah peluang bagi anak untuk menampilkan perilaku beresiko. Mulai dari menjajal rokok, mencicipi minuman keras, dan ulah-ulah vivere pericoloso lainnya.

Riset Institute for Public Policy Research menggarisbawahi hal serupa. Simpulannya, pada masa liburan panjang, tindak kejahatan dan pelanggaran hukum kawula muda mengalami peningkatan.

Nah, wahai orang tua, bangun terus kepercayaan pada anak sembari tetap meradar perkembangan sosial mereka. Karena anak apalagi remaja juga butuh waktu untuk bersosialisasi dengan sebaya, maka bikin kesepakatan tentang jarak terjauh dan waktu terlama mereka boleh bepergian.

Sesekali boleh juga cek, apakah ada bau rokok, aroma minuman keras, atau pun benda-benda asing yang tak semestinya disimpan oleh orang-orang seumur mereka. Psstt, karena anak-anak suka update status media sosial, maka bagus juga kalau gerak-gerik dan suasana hati mereka dipantau dari situ. Kalau ada gelagat kurang beres, bicara secara baik-baik ya.

Baca Jam/Ritme Biologis Anak

Liburan -apalagi yang panjang- membuat anak-anak lebih segar sehingga lebih siap kembali bersekolah. Persoalannya, kebanyakan pemudik memilih balik ke wilayah domisili pada hari terakhir liburan. Karena pemudik bergerak serempak, maka polusi pun naik kadarnya.

Tindak-tanduk orang tua serba kemrungsung, geber kendaraan non-stop, makan sekenanya. Dampaknya, anak-anak memasuki pagar sekolah dengan stamina pas-pasan dan kebugaran ala kadarnya.

Alhasil, wahai para penanggung jawab titipan Tuhan, pastikan bahwa waktu kita tidak semata-mata ditentukan oleh jam tangan. Baca jam/ritme biologis anak; kapan mereka makan, kapan mereka beribadah, kapan mereka istirahat, dan kapan-kapan lainnya.