Triwulan II 2018, Lapangan Usaha Pertanian Tumbuh Paling Tinggi

Ekonomi Indonesia triwulan II-2018 terhadap triwulan tahun sebelumnya meningkat sebesar 4,78 persen

Direktur Jenderal Hortikultura, Suwandi (Foto: Humas Kementan)

MONITOR, Jakarta – Badan Pusat Statistik (BPS) merilis Pertumbuhan Ekonomi Indonesia/ Produk Domestik Bruto (PDB) triwulan II tahun 2018. Menurut catatan BPS, Ekonomi Indonesia triwulan II-2018 terhadap triwulan tahun sebelumnya meningkat sebesar 4,78 persen quarter-to-quarter (q-to-q).

Dari sisi produksi, pertumbuhan tertinggi pada Lapangan Usaha Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan sebesar 9,93 persen. Disusul Perusahaan Jasa 3,37 persen, dan Jasa Lainnya 3,30 persen.

Struktur PDB dan Pertumbuhan Ekonomi Menurut Lapangan Usaha triwulan II-2018 (y-on-y) dibanding tahun sebelumnya, sektor Pertanian berada di urutan kedua strutur PDB sebesar 13,63 persen, dengan Pertumbuhan Ekonomi 4,76 persen. Sementara, sektor Industri ada pada peringkat pertama Struktur PDB sebesar 19,83 persen, dengan Pertumbuhan Ekonomi lebih rendah 3,97 persen.

BPS mencatat beberapa fenomena sebagai faktor pendukung sektor Pertanian menjadi yang paling kuat dalam Laju Pertumbuhan Lapangan Usaha Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan (y-on-y). Fenomena itu adalah puncak panen raya padi yang terjadi di Maret 2018 dan masih berlangsung hingga akhir triwulan II/2018.

Kemudian, cuaca yang lebih kondusif dibanding tahun 2017 menyebabkan produksi sayur-sayuran dan buah-buahan meningkat. Terakhir, pengembangan teknologi budidaya dan pakan mandiri yang dikembangkan Kementerian Kelautan dan Perikanan memberikan pengaruh positif terhadap peningkatan produksi perikanan budidaya.

Sub-sektor pada Sektor Pertanian yang tumbuh meningkat, dalam ringkasan Rilis Pertumbuhan Ekonomi Triwulan II-2018 BPS, disebutkan terutama terjadi pada tanaman hortikultura. Khususnya produksi sayuran dan buah-buahan serta peternakan pada produk unggas.

Menanggapi hal tersebut, Suwandi selaku Direktur Jenderal Holtikultura Kementerian Pertanian, menjelaskan bahwa triwulan dua memang sedang masa tanam ditambah upaya besar untuk mendorong ekspor.

“Di triwulan kedua memang kita memang masuk masa produksi untuk tanaman hortikultura. Ini juga bisa dilihat dari upaya kita meningkatkan ekspor,” kata Suwandi.

Sementara itu, I Ketut Darmita, Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan menyatakan bahwa kebijakan bidang peternakan sudah di jalur yang benar.

“Artinya pembangunan sub sektor peternakan sudah on the track, dan berhasil memberikan kontribusi pertumbuhan ekonomi nasional. Ekspor obat hewan kita telah menembus 82 Negara. Tahun ini kita juga sudah berhasil meningkatkan ekspor produk ayam olahan dan telur ke beberapa negara termasuk Jepang, serta telur berembriyo ke Myanmar,” ungkapnya.

Sebagai informasi, data BPS menyebutkan kontribusi volume ekspor 2017 untuk subsektor peternakan merupakan yang terbesar pada kelompok hasil ternak, yakni sebesar 64,07%. Salah satunya adalah daging ayam. Negara tujuan ekspor subsektor peternakan terbanyak adalah Hongkong (23,10%) dan China (21,96%). Sejauh ini, secara keseluruhan peternakan Indonesia sudah mampu menembus lebih dari 110 negara.

Secara khusus, ekspor daging ayam tahun 2017 mencapai sebesar 325 ton, meningkat 1.800% dibandingkan tahun sebelumnya. Begitu juga dengan ekspor telur unggas sebanyak 386 ton atau meningkat 27,39% dibanding 2016.