Kinerja Pangan Membaik, Alumni IPB Sebut Amran Revolusioner Pertanian

Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman (Foto: Istimewa)

MONITOR, Jakarta – Sejumlah alumni Institut Pertanian Bogor (IPB) yang tergabung dalam Forum Alumni Independen (FAN) IPB menilai kinerja Menteri Pertanian (Mentan), Andi Amran Sulaiman membanggakan.

Menurut Ketua FAN IPB, Muhamad Karim, keberhasilan kebijakan dan program pangan Mentan Amran telah berhasil mendongkrak daya beli petani yang mengindikasikan peningkatan kesejahteraan, meningkatkan ekspor dan Pertumbuhan Domestik Bruto (PDB) di sektor pertanian pada tahun 2017-2018 naik mencapai 4,41 persen.

Tak hanya itu, kebijakan Mentan Amran pun berani memberantas mafia pangan yang selama ini menghegemoni kebijakan sehingga merugikan petani dan negara.

“Iya kinerja Mentan Amran bagus. Bisa menaikan nilai tukar petani, mengeskpor komoditas pertanian dan memberantas mafia pangan. Identik dengan memberantas kejahatan perikanan yang juga ada mafianya,” demikian dikatakan Karim di Jakarta, Rabu (27/6).

Akan keberhasilan ini, Dosen Bioindustri Universitas Trilogi itu menilai kebijakan dan program pangan Mentan Amran merupakan langkah revolusioner dalam pebmbangunan pertanian. Pasalnya, kebijakan pangan di era pemerintahan sebelumnya telah merusak citra Kementan karena banyaknya kasus korupsi.

“Bagi saya ini sebuah langkah revolusioner dalam pembangunan pertanian yang berpihak kepada petani sendiri. Jika ini dilanjutkan dan berjalan terus menerus, dapat mengurangi kemiskinan dan kesenjangan sosial ekonomi,” ujarnya.

“Artinya, tinggal ke depannya adalah bagaimana meningkatkan nilai tambah produk-produk pertanian,” imbuh Karim.

Karim menjelaskan, peningkatan kesejahteraan petani dapat dilihat dari indeks Nilai Tukar Petani (NTP). Berdasarkan data yang dirilis BPS, NTP secara nasional pada Mei 2018 meningkat 0,37 persen menjadi 101,99 jika dibandingkan April yang hanya 101,61. Begitu pun indeks Nilai Tukar Usaha Rumah Tangga Pertanian (NTUP) Mei 2018 mencapai 111,38 atau naik 0,32 persen dari bulan sebelumnya yang nilainya hanya 111,03.

“Data BPS menyebutkan jumlah penduduk miskin 3 tahun terakhir menurun. Tahun 2015 sebanyak 1.78 juta jiwa, 2016 turun 1.72 juta jiwa dan 2017 turun lagi sebanyak 16,31 juta jiwa. Artinya penurunan kemiskinan ini jelas akibat kebijakan pangan, karena penduduk di pedesaan sebagian besarnya adalah petani,” jelasnya.

Keberhasilan lain dari kebijakan pangan Mentan Amran yakni nilai ekspor pertanian meningkat. Data BPS yang dirilis 17 Mei 2018 menyebutkan nilai ekspor komoditas pertanian mencapai 298,5 juta USD atau tumbuh 6,11 persen (month to month) dan 7,38 persen (year on year).

“Capaian ini terjadi karena beberapa komoditas sudah swasembada alias tidak lagi impor. Setidaknya dalam 2 tahun ke depan paling tidak 10 komoditas strategis pertanian dapat berswasembada. Jadi, ini hal positif dalam pembangunan pertanian sebagai basis utama dalam pembangunan nasional dan mensejahterakan rakyat,” ungkap Karim.

Untuk meningkatkan lagi kinerja pangan ke depan, Karim menyatankan agar Kementan juga bisa mendorong pengembangan pangan-pangan lokal non beras daerah sebagai substitusi pangan beras. “Dengan demikian bukan sekedar swasembada beras tapi juga swasembada pangan bisa diraih dalam waktu dekat,” terangnya.

Terkait pemberantasan mafia pangan, terlihat dari hasil penindakan Satgas Pangan. Sebanyak 10 importir bawang putih nakal telah diblacklist. Satgas Pangan telah menindak ratusan kasus bahan pokok dan non bahan pokok sebanyak 782.

Sebanyak 409 orang telah ditetapkan tersangka, 21 kasus hortikultura, 66 kasus beras, 27 kasus ternak, 12 kasus pupuk dan 247 kasus lainya.