Demi Ketahanan Pangan, Kementan Serius Garap Lahan Rawa Lebak

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman pada Juni lalu meninjau lahan rawa dalam persiapan peringatan Hari Pangan Sedunia yang akan dilaksanakan di Kalimantan Selatan, pada Oktober mendatang.

MONITOR, Jakarta – Lahan rawa lebak yang dikelola secara tepat dapat menjadi salah satu sumberdaya yang berpotensi besar meningkatkan produksi pangan dan pendapatan petani. Dari 25 juta hektar luas lahan rawa lebak di Indonesia, baru sebagian kecil yang dimanfaatkan secara intensif untuk pertanian.

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyebutnya sebagai raksasa tidur. Lahan rawa lebak yang diolah dengan baik bisa menjadi lahan pertanian produktif yang menambah pasokan pangan nasional. Lahan rawa lebak yang sedang digencarkan oleh Kementerian Pertanian diantaranya ada di Sumatera Selatan dan Kalimantan Selatan. Dengan bantuan ekskavator dan pompa gratis, lahan tersebut terbukti produktif, bahkan indeks pertanamannya bisa tiga kali dalam setahun.

Peneliti dari Balai Penelitian Pertanian Lahan Rawa (Balittra) Yanti Rina megatakan hasil kajiannya pada lahan rawa lebak di tiga desa Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU) Kalimantan Selatan menunjukkan bahwa petani di lahan rawa lebak umumnya memiliki beberapa pola usahatani yang menguntungkan. “Pola usahatani yang dilakukan di rawa lebak tidak hanya produksi padi sawah, tetapi juga semakin menguntungkan dengan memelihara ikan, dan beternak itik,” ungkap Rina di Jakarta (18/8).

Rawa Lebak

Rina mengatakan, pelaksanaan tiga usahatani itu diyakini bepotensi memberikan keuntungan yang cukup besar bagi petani. Dari usahatani ternak itik dan pemeliharaan ikan saja misalnya, petani mampu mengantongi keuntungan antara dua hingga enam juta rupiah setiap bulannya. Itik yang diternak biasanya merupakan itik jenis alabio yang merupakan itik lokal dengan keunggulan sebagai itik petelur.

Namun demikian, Rina menjelaskan bahwa masalah utama dalam pemanfaatan lahan rawa lebak adalah tata air dan kesuburan lahan. Karena itu, fokus Kementan pada kegiatan agronomi yang dapat dilakukan untuk meningkatkan produktivitas lahan, selain pengendalian tata air, adalah pola tanam dan penggunaan varietas unggul yang adaptif.

“Verietas Mekongga dan Ciherang apabila diikuti dengan ketepatan waktu tanam mampu akan menghasilkan Gabah Kering Giling antara 4,9 sampai 5,5 ton per hektar dengan nilai keuntungan mencapai 14 juta rupiah per hektar,“ tambah Rina.

Inovasi Maksimalkan Rawa

Memaksimalkan rawa lebak butuh strategi dan penerapan teknologi yang tepat guna. Konsep mini polder diyakini dapat mengatasi kendala utama pengembangan usahatani lahan rawa lebak, seperti banjir pada musim hujan dimana fluktuasi air sangat sulit diperkirakan.

Kepala Balai Besar Litbang Sumberdaya Lahan Pertanian, Dedi Nursyamsi saat melakukan temu lapang dengan kelompok tani Desa Habuku Raya, Kabupaten Hulu Sungai Utara pada Kamis (9/8) lalu mengungkapkan bahwa konsep mini polder terbukti meningkatkan indeks pertanaman lahan sawah di rawa lebak dari tanam sekali menjadi dua kali dalam setahun.

“Konsep mini polder merupakan pembagian polder besar (> 1000 ha) menjadi polder yang lebih kecil (50-100 ha) dengan tujuan agar pengelolaan air lebih mudah dan biaya perawatan lebih murah. Kendala kelebihan air di musim hujan yang biasanya menggenangi lahan sawah bisa dipompa keluar sehingga lahan bisa ditanami,” terang Dedi.

Selain fluktuasi tinggi muka air, peneliti dari Balai Besar Penelitian Tanaman Padi (BB Padi) Indrastuti A. Rumanti menyebutkan bahwa kendala lainnya adalah ancaman penyakit blast. “Varietas unggul padi yang toleran terhadap genangan, serta toleran terhadap penyakit blast dapat menjadi salah satu komponen teknologi penting dan murah untuk mengatasi permasalahan di lahan rawa,” lanjut Indras.

Indras menjelaskan, ada beberapa varietas unggul baru yang dapat mengatasi penyakit blast dan tahan terhadap genangan. Varietas yang adaptif terhadap genangan memiliki produktifitas 6 hingga 9,5 ton per hektar. Bahkan ada petani di Cilacap yang produktivitasnya mencapai 10 ton/ha di lahan lebakan.

Varietas tersebut toleran terhadap rendaman selama 6 hingga 14 hari pada fase vegetatif, dan dapat bertahan hidup dalam kondisi tenggelam hingga 14 hari berturut-turut. Inpara 3 dan Inpara 8 Agritan misalnya memiliki sifat istimewa, yakni mampu memanjangkan tinggi tanamannya mengikuti tinggi muka air, sehingga dapat bertahan pada kondisi genangan (stagnant flooding) antara 60 sampai 80 cm hingga fase generatif.

Indras mengaku telah memperkenalkan berbagai varietas diatas melalui demontration plot (demplot) yang bertujuan untuk mengetahui preferensi petani, pedagang benih/beras dan pengusaha penggilingan. Demplot juga berfungsi sebagai upaya seleksi variteas.

“Melalui demplot, pemulia padi akan mendapatkan umpan balik guna memperbaiki kekurangan varietas yang dikenalkan, varietas yang terpilih diharapkan dapat diterima dan diadopsi oleh petani lebak, sekaligus dapat mengatasi permasalahan-permasalahan yang ada di lahan lebak,” tutup Indras.