Meneladani Perjuangan Hijrah Nabi

Ilustrasi hijrah Nabi dan para sahabatnya jaman dahulu

MONITOR – Tahun Baru Islam kerap dimaknai sebagai ajang refleksi diri untuk berhijrah. Hijrah dari yang buruk ke arah yang lebih baik. Momentum ini sekaligus menjadi hari bersejarah bagi umat Islam di seluruh dunia.

Dalam sejarahnya, tahun baru Islam digunakan untuk memperingati peristiwa hijrah Nabi Muhammad SAW dari kota Mekkah ke Madinah pada 622 Masehi. Saat itu, bangsa Arab tidak menggunakan tahun untuk menandai suatu peristiwa.

Namun atas usulan sahabat Ali bin Abi Thalib, peristiwa hijrahnya Nabi SAW dari Makkah ke Madinah lantas diabadikan sebagai patokan kalender Hijriyah Islam untuk pertama kalinya.

Bicara soal Hijrah, fenomena ini di masa Nabi ditandai dengan pindahnya umat Islam dari satu tempat ke tempat lainnya. Saat itu, putra kesayangan Abdullah dan Aminah itu melihat pesatnya dakwah Islam di Yatsrib (sebutan lama kota Madinah) dan masuk Islamnya suku Aus dan Khazraj.

Diam-diam Nabi pun memerintahkan sahabatnya untuk pindah ke Yasrib, baik perorangan maupun berkelompok kecil. Rupanya hijrah sahabat Nabi tercium oleh segelintir suku Quraisy. Mereka khawatir jika umat Islam akan balas boikot jalur perdagangan suku di Arab.

Satu-satunya cara agar umat Islam tidak memperluas sayap di Yasrib, yakni menghabisi Nabi Muhammad. Hingga pada suatu malam, segolongan pemuda Quraisy mengepung rumah Rasulullah agar mereka dapat membunuhnya bila beliau keluar. Malam itu, Rasulullah diperintahkan Allah untuk hijrah.

Untuk mengelabuhi pemuda Quraisy, maka diaturlah siasat, Ali bin Abi Thalib diperintahkan tidur ditempat tidurnya dengan memakai mantel Nabi yang hijrah dari Hadramaut. Ketika mengetahui Nabi berhasil kabur, pemuda Quraisy kecewa bukan kepalang. Mereka pun mencari jejak-jejak pelarian Nabi.

Sementara Nabi Muhammad bersama Abu Bakar sahabatnya, menuju Gua Tsur di Selatan Makkah. Tiga hari tanpa banyak diketahui orang, kecuali Abdullah ibn Abi Bakar, Aisyah, dan Asma’serta pembantu mereka ‘Amir ibn Fuhairah.

Setelah turun Ayat, tibalah Nabi di Yasrib. Beliau diterima baik oleh penduduk Yatsrib. Nabi resmi menjadi pemimpin penduduk kota ini. Bukan saja sebagai kepala agama, tetapi juga sebagai kepala negara.

Untuk memperkokoh fondasi masyarakat dan negara kala itu, Nabi pun meletakan dasar-dasar kehidupan masyarakat. Dasar pertama, pembangunan masjid, selain untuk tempat shalat juga sebagai sarana penting untuk mempersatukan kaum muslimin dan mempertalikan jiwa mereka.

Masjid juga dijadikan sebagai tempat bermusyawarah, untuk merundingkan masalah-masalah yang dihadapi. Bahkan, kedudukan masjid dijadikan sebagai pusat pemerintahan.

Dasar kedua, ukhuwah Islamiyah, persaudaraan sesama muslim. Nabi mempersaudarakan antara kaum Muhajirin, orang-orang yang hijrah dari Makkah ke Madinah dan kaum Ansor, penduduk Madinah yang sudah masuk Islam dan ikut membantu kaum Muhajirin.

Dasar ketiga, hubungan persaudaraan dengan pihak-pihak lain yang tidak beragama Islam. Di madinah di samping orang arab Islam, juga terdapat golongan masyarakat Yahudi dan oran-orang Arab yang masih menganut agama nenek moyang mereka. Agar stablitas masyarakat dapat di wujudkan nabi Muhammad mengadakan ikatan perjanjian dengan mereka.