Mendulang Rupiah dari Kuatnya Harga Timah

Ilustrasi timah

MONITOR, Jakarta – Dilatarbelakangi outlook timah yang positif, harga penjualan yang tumbuh 6% yoy, dan effisiensi biaya, Samuel Sekuritas mengestimasikan PT Timah Tbk masih membukukan kinerja on-track sepanjang tahun ini.

Analis Samuel Sekuritas, Sharlita Malik menuturkan, produksi timah Myanmar diperkirakan menurun seiring mine-life reserve yang lebih rendah. Sementara di China, produksi bijih timah diperkirakan stagnan di level 170.000 ton.

Dari domestik, moratorium izin pertambangan dan masih minimnya penemuan cadangan baru yang signifikan, ia meyakink akan membatasi produksi bijih timah.

“Kami proyeksikan harga timah stabil dengan rerata harga 2018 sebesar US$20.100/ton (naik 5% yoy), rata-rata ytd US$20.658/ton,” ujarnya, Kamis (13/9).

Sejalan dengan penguatan harga timah, ia memperkirakan TINS dapat membukukan peningkatan rerata harga penjualan pada tahun ini sebesar 6% yoy ke level $21,500Mton.

Namun, volume penjualan bijih timah bakal turun 5% yoy seiring penurunan produksi sepanjang tahun ini

Adapun, proyeksi pendapatan sepanjang tahun ini tumbuh sekitar 2% yoy menjadi Rp9,4 trilliun.

Di samping itu, perusahaan patungan dengan Topwide Ventures Limited membuka peluang TINS untuk mengoptimalkan areal konsesi pertambangan seluas 16.000 hektar.

Kapasitas produksi ditargetkan mencapai 5.000 Mton ingot per tahun dan diharapkan sudah dapat memulai konstruksi pada semester kedua tahun ini.

“Dengan demikian, kami merekomendasikan beli saham TINS dengan target harga Rp1.150. Kami melihat TINS mampu membukukan kinerja on-track di 2018, dengan risiko investasi seperti menurunnya harga timah di bawah estimasi dan tingginya biaya operasional yang dapat menekan margin,” paparnya.