Kementan Terus Dongkrak Produksi Lengkeng

Direktur Jenderal Hortikultura, Kementerian Pertanian (Kementan), Suwandi saat meninjau perkebunan lengkeng

MONITOR, Jakarta – Pemerintahan Jokowi-JK mendorong pengembangan buah-buahan guna meningkatkan produksi dalam negeri. Salah satunya lengkeng, baik pada sentra kawasan maupun skala rumah tangga.

Direktur Jenderal Hortikultura, Kementerian Pertanian (Kementan), Suwandi mengatakan sesuai arahan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman, pengembangan kawasan harus memperhatikan keunggulan komparatif dan kompetitif wilayah. Bahkan harus dikelola secara komprehenship dari hulu hingga hilir.

“Seusai acara sosialisasi pangan lokal bagi para wisatawan asing beberapa hari yang lalu di Candi Borobudur, sore harinya kami mampir ke kebun Lengkeng yang dikelola Mugiyanto dari sewa lahan Bumdes Graha Mandala, Desa Borobudur. Sungguh luar biasa, kebun Lengkengnya 1,3 hektar berisi 250 batang dirawat rapih, bersih dan tanaman subur. Hasil panen pertama 40-50 kg perpohon atau mencapai 12 ton perhektare,” ungkap Suwandi di Jakarta, Rabu (22/8/2018).

Suwandi menekankan pengelolaan kebun lengkeng ini merupakan model pengembangan budidaya lengkeng berbasis kawasan yang memberikan keuntungan baik pada pengelolaan maupun kesejahteraan masyarakat sekitar. Terbukti, kebun lengkeng dijadikan tempat objek wisata, sehingga dikenal Candi Borobudur plus Wisata Kebun Lengkeng.

“Ini agar menjadi inspirasi bagi para pemuda tani. Saya bangga dan haru kepada Mugiyanto yang baru mengetahui ternyata seorang TNI penyandang disabel dinas di Kodim 0705 Magelang,” terangnya.

Karena itu, Suwandi mengaku terharu dan salut kepada Mugiyanto, yang notabenenya TNI disabel karena satu kakinya diamputasi akibat korban medan tugas di Ambon tahun 2.000. “Salut tetap semangat rajin dalam tugas teritorial dinasnya dan menjadi pegiat tanaman Lengkeng,” ucapnya.

Lebih lanjut Suwandi mengungkapkan pasar buah lengkeng ini terbuka lebar, produksinya 2017 baru 10.100 ton dengan luas panen 638 hektar. Kini terus digenjot menjadi luas tanam 1.500 hektar berisi 300 ribu pohon. Pada 2018 ini didistribusikan 50 ribu bibit Lengkeng.

“Jawa Tengah merupakan sentra Lengkeng terbesar, dengan 167 ribu pohon dengan jenis lengkeng Batu, Selarong, Pingpong, Diamond River, Itoh, Mutiara Poncokusumo dan Kateki,” ungkapnya.

Lokasi sentra tersebar lengkeng di Jawa Tengah yakni Kabupaten Semarang, Blora, Karanganyar, Klaten, Jepara, Temanggung, Wonogiri, Magelang, dan Sragen.

“Mari mengonsumsi buah lokal. Kandungan karbohidrat dalam buah Lengkeng cukup banyak, sedangkan lemak dan kalorinya rendah, sehingga bisa menjadi asupan sumber karbohidrat dan menjaga stamina,” ajak Suwandi.

Buah lengkeng juga memiliki kandungan polifenol sehingga berguna untuk mencegah gangguan radikal bebas. Tubuh akan terlindungi dari kerusakan sel.

“Lengkeng juga mengandung zat anti depresan sehingga bisa mengurangi stress dan insomnia,” ungkap Suwandi.

Sementara itu, Mugiyanto mengatakan menjadi petani lengkeng sukses awalnya terinspirasi dari kerjasama TNI dan Kementan meningkatkan ketahanan pangan. Kerja sama ini menekankan anggota TNI harus berbuat terbaik bagi negeri tercinta.

“Iya diluar waktu dinas dan saat libur, saya giat bertani Lengkeng hingga malam hari. Bahkan diwaktu luang, sudah biasa keliling membina 30 petani Magelang dan 200an petani daerah lain, menyebarkan informasi via dunia maya dan menjadi nara sumber berbagai pertemuan,” akui nya.

Mugiyanto membeberkan kebun lengkeng yang dibangunnya melalui sewa lahan 1,3 hektare ke Bumdes hingga 5 tahun kedepan. Hasilnya, produksinya bagus bahkan pada panen kedua produksinya naik 2 hingha 3 kali lipat dari panen pertama.

“Kuncinya di benih unggul, agroklimat sesuai, teknologi tepat dan disempurnakan dengan do’a. Ini usaha menguntungkan, harga di petani Rp 40 hingga 50 ribu perkg, kalau di supermarket bisa 70 ribu perkg,” bebernya.

“Selain usaha produksi, saya juga melakukan usaha pembibitan Lengkeng Kateki, wisata petik lengkeng, hingga pasca panen dan tata niaga,” imbuhnya.