Kembangkan UMKM Koperasi, Perum Jamkrindo Rekrut 30 Mahasiswa Magang

Perusahaan Umum Jaminan Kredit Indonesia (Jamkrindo) menerima sebanyak 30 orang mahasiswa magang.

MONITOR, Jakarta – Perusahaan Umum Jaminan Kredit Indonesia (Jamkrindo) menerima sebanyak 30 orang mahasiswa magang. Hal ini merupakan peran Perum Jamkrindo mendukung pembangunan Sumber Daya Manusia (SDM) terutama pengembangan usaha mikro, kecil, dan menengah serta koperasi (UMKMK).

Mahasiswa yang tergabung dalam program magang ini berasal dari Vokasi Universitas Indonesia, Universitas Negeri Jakarta dan Universitas Islam Negeri Jakarta untuk menjalani program magang selama enam bulan.

Kegiatan penerimaan mahasiswa magang di Perum Jamkrindo ini dibuka oleh Direktur MSDM, Umum, dan Kepatuhan Perum Jamkrindo Sulis Usdoko.

Direktur MSDM, Umum, dan Kepatuhan Perum Jamkrindo, Sulis Usdoko.

Program magang ini adalah tindak lanjut dari kesepakatan perjanjian kerjasama dan nota kesepahaman (MoU) yang merupakan program dari Kementerian BUMN dengan beberapa universitas negeri di Jakarta.

Sulis mengatakan bahwa Perum Jamkrindo sebagai perusahaan BUMN berkomitmen menciptakan SDM yang salah satunya mendukung program vokasi magang mahasiswa untuk meningkatkan kompetensi mahasiswa menghadapi persaingan global.

“Dengan magang di perusahaan BUMN diharapkan ada peningkatan kualitas SDM sehingga dalam dunia kerja nanti dapat menjadikan sumber daya manusia yang unggul dan baik,” katanya, Selasa (14/8), di Auditorium lantai 10 Gedung Jamkrindo.

Sebagai seorang yang memiliki pengalaman sebagai bankir, Sulis menyadari pentingnya peningkatan kualitas SDM di industri penjaminan yang dijalankan oleh Perum Jamkrindo terutama untuk mendukung pengembangan UMKMK.

Untuk itu, sebagai bentuk dukungan dalam mempersiapkan SDM yang berkualitas, Perum Jamkrindo berharap bahwa para mahasiswa akan mendapatkan bekal mengenai dunia kerja yang sesungguhnya.

Menurut Sulis, para mahasiswa peserta magang bersertifikat di Perum Jamkrindo akan mendapatkan sejumlah manfaat. Salah satunya, adalah mendapatkan pengetahuan yang lebih dalam mengenai bisnis penjaminan.

Harapannya, ketika mereka melamar di industri jasa keuangan, pengetahuan mengenai bisnis penjaminan dan perekonomian lebih unggul dibandingkan yang tidak ikut magang bersertifikat.

Sulis melihat peluang strategis dalam upaya pengembangan SDM Perum Jamkrindo untuk mendukung pengembangan UMKM diharapkan akan menjadi leading dibidang penjaminan.

”Itu artinya harus yang paling terdepan, baik itu dalam konteks bisnis, operasional, perangkat infrastuktur, maupun aspek-aspek yang meliputi industri penjaminan. Sebab, Jamkrindo jadi benchmark semua perusahaan penjaminan yang ada di Indonesia, menjadi guru bagi Jamkrida yang ada di daerah-daerah,” ujarnya.

Untuk mewujudkan hal tersebut, menurut Sulis yang diperlukan adalah pertama SDM Perum Jamkrindo dari lapisan paling bawah sampai atas mesti expert di bidang penjaminan.

”Untuk leading mesti expert. Keahlian atau core kompetensinya benar-benar dari A sampai Z. Tidak boleh ada satu pun diorganisasi Perum Jamkrindo yang tidak expert, kalau ingin leading. Ini tantangan pertama,” kata peraih gelar Magister Management dari Universitas Brawijaya ini.

Di Indonesia, banyak UMKMK yang sebenarnya feasible tetapi tidak bankable. Sulit bagi mereka mengakses modal dari perbankan. Oleh karena itu, UMKMK harus didukung oleh perusahaan penjaminan, supaya mereka mendapat pembiayaan/kredit dari lembaga keuangan bank maupun nonbank.

”Karena keberadaan Perum Jamkrindo erat kaitannya dengan UMKMK, kedua SDM di perusahaan ini mesti tahu betul perilaku usaha para UMKMK. Jangan hanya expert di bisnis penjaminan saja,” tegas Sulis.

Selain itu, yang harus dikuasai oleh SDM Perum Jamkrindo adalah pengelolaan operasional yang basisnya database. Orang-orang di Perum Jamkrindo harus mengerti cara mengelola data.

Sulis menjelaskan, berdasarkan data BPS, jumlah UMKMK di Indonesia lebih dari 50 juta unit usaha. Namun, data tersebut hanya perkiraan saja. Tidak by name by address. Dari sekian banyak Kementerian/Lembaga yang mengurusi UMKMK, tidak satu pun memiliki database UMKMK secara riil.

”Mestinya Perum Jamkrindo yang leading dalam penguasaan data UMKMK. Ini kompetensi inovasi pengelolaan database yang mesti dimiliki oleh SDM di Perum Jamkrindo,” katanya.

Menurut Sulis, saat ini baru ada 5 juta UMKMK yang terdata di Perum Jamkrindo. Pendataan UMKMK akan terus dilakukan supaya ke depan Perum Jamkrindo akan leading dalam pengelolaan database UMKMK di Indonesia.

Sekedar diketahui, Perum Jamkrindo adalah badan usaha milik negara yang bergerak di bidang penjaminan dengan produk program dan nonprogam.