Upaya Selamatkan Rangkong Gading Indonesia dari Kepunahan

MONITOR, Jakarta – Keberadan burung Rangkong Gading di Sumatera dan Kalimantan kian terancam, populasinya terus menurun oleh perburuan dan deforestasi hutan.

Kurun waktu 2012-2016 saja, sebanyak 1.398 paruh burung bernama latin Rihoplax Vigil berhasil disita di Indonesia, belum lagi lebih dari 2.000 paruh yang diselundupkan ke Tiongkok, Amerika dan Malaysia berhasil disita.

Demikian dijelaskan oleh Direktur Konservasi dan Keanekaragaman (KKH), Bambang Dahono Adji saat mewakili sambutan Direktur Jendral Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) dalam acara Konsultasi Publik Nasional, untuk menyusun Strategi dan Rencana Aksi Konservasi (SRAK) Rangkong Gading, di Jakarta (23/11).

"SRAK Rangkong gading ini sangat penting untuk mendapatkan komitmen dari berbagai pihak. Para pihak dapat mencermati semua kegiatan, untuk mendorong upaya konservasi yang lebih terintegrasi, serta memastikan kelestarian Rangkong Gading untuk alam dan budaya Indonesia yang kita banggakan," kata Bambang.

Bambang juga menjelaskan, kegiatan tersebut merupakan tahap akhir dari konsultasi publik tingkat nasional, setelah diselenggarakan di tingkat regional Sumatera dan Kalimantan. Harapannya, semua pihak dalam peredaran Rangkong Gading iligel di perbatasan memiliki komitmen untuk melakukan pencegahan, termasuk melakukan pendekatan multidoors yang efektif dan terintegrasi.

“SRAK meliputi lima strategi yaitu penelitian dan monitoring, kebijakan dan penegakkan hukum, kerjasama dan kemitraan, komunikasi dan penyadartahuan, dan pendanaan”, lanjutnya. 

Untuk diketahui, penyusunan SRAK ini merupakan implementasi Resolusi Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora (CITES) COP17 (Resolusi Conf. 17.11), tentang konservasi dan perdagangan ilegal Rangkong Gading. Dalam kesempatan ini juga dilakukan sosialisasi konsep Keputusan Menteri LHK untuk SRAK Rangkong Gading, dengan masa berlaku 10 tahun.