Terorisme masih jadi Ancaman, Toleransi dan Komitmen Kebangsaan harus Diperkuat

MONITOR, Ciputat – Aksi terorisme masih menjadi ancaman nyata bangsa Indonesia. Ya, sepanjang 2017 saja tercatat telah terjadi rentetan aksi yang dilakukan oleh pihak-pihak tak nertanggung jawab, sebut saja Bom Cicendo Bandung, Bom Kampung Melayu, Penyerangan Polda Sumut, Penusukan Polisi di Masjid Falatehan Lima hari berselang usai penyerangan di Polda Sumut, dan lain-lain.

Pemerintah sendiri telah banyak melakukan upaya dalam rangka menaggulangi dan memerangi aksi terorisme dari hulu sampai hilir. 

Direktur Eksekutif Trias Politika, Lukman Hakim menegaskan gerakan terorisme merupakan ancaman bagi keutuhan dan persatuan bangsa. Apalagi di tahun 2018 ini kita memasuki tahun politik dimana tensi yang meningkat di masyarakat perlu diredam dengan pesan pesan persatuan. 

"Butuh perhatian semua pihak agar kejadian kejadian buruk (kekerasan) yang bisa terjadi pada siapa saja ini tidak terulang. Terlalu besar harga yang harus ditanggung dari ulah aksi terorisme tersebut," ujar Lukman dalam acara diskusi "Deradikalisasi Terorisme" di Kampus UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Kamis (19/4).

Lukman menambahkan semua elemen dan kelompok masyarakat harus bersatu padu dan bergandengan tangan agar terjadi interaksi pemikiran terhadap penganut paham terorisme.

"Meluruskan kembali pemahaman agama adalah salah satu kiat, sehingga agama tidak dipahami sesuai dengan keinginan hawa nafsu," tandasnya.

Untuk itu, lanjut Lukman toleransi harus terus digaungkan setiap waktu seperti halnya yang terus digaungkan oleh dua ormas terbesar di Indonesia NU dan Muhammadiyah.

"Kita patut mengucapkan banyak terima kasih kepada dua ormas terbesar di Indonesia NU dan Muhammadiyah. Komitmen dua Ormas tersebut dalam menangkal paham Radikal tidak perlu dipertanyakan lagi. Kedua ormas tersebut bahu membahu mencegah terorisme baik pada level aksi maupun teologi," ungkapnya.

"Kita semua berharap 2018 ini aksi aksi terorisme atau kekerasan tidak terulang lagi. Hal hal yang menjadi pemicu seperti ujaran kebencian, hoaks, black campaign tidak perlu ditampilkan. Energi bangsa ini harus diarahkan pada hal yang produktif baik pembangunan manusia maupun pembangunan ekonomi," pungkasnya.