Cerita Muslim Uighur korban Konflik dengan Pemerintah Cina

Ilustrasi

MONITOR, Jakarta – Pernyataan pemerintah Cina yang menyangkal adanya tindakan persekusi terhadap ribuan warga muslim Uighur di Xinjiang Barat dibantah langsung oleh Gulbahar Zililova. Wanita berusia 54 tahun tersebut mengungkapkan kekejaman pemerintah Cina saat menjadi tahanan di Kamp Reedukasi, Xinjiang.

Gulbahar yang berkewarganegaraan Kazakistan mengaku masih trauma terhadap perlakuan kejam pemerintah komunis di kamp tahanan.

Masih belum hilang dari ingatan Gulbahar saat dirinya berada di kamp bersama sejumlah wanita muslim Uighur lainnya. Dengan berlinang air mata, wanita berkerudung tersebut menceritakan kejadian yang dialaminya. Gulbahar menjadi tahanan di kamp tersebut selama setahun lebih.

“Sewaktu ditahan saya merasa sedih. Saya tidak merasa bersalah tapi tetap dimasukan ke dalam kamp tahanan. Mereka menahan saya hanya karena saya seorang muslim,” kata Gulbahar yang masih keturunan etnis Uighur di Jakarta, Sabtu (12/1).

Gulbahar Zililova

Di dalam kamp tahanan yang berukuran tidak terlalu besar, Gulbahar mengaku ditempatkan bersama beberapa wanita muslim Uighur lainnya. Di dalam ruangan tersebut, gerak-gerik setiap tahanan terpantau kamera CCTV.

“Jadi semua aktifitas dilakukan di dalam kamp tersebut bahkan sampai buang hajat pun di dalam kamp itu dan disaksikan yang lainnya,” terang Gulbahar dengan nada lirih.

“Kondisi semua tahanan wanita tangana dan kakinya semua diborgol. Untuk kaki, borgol dengan besi seberat 5 Kg. Sehari-hari sejak bangun pagi sampai jam 10 malam kami tidak boleh bergerak hanya menatap ke dinding yang terpasang televisi. Kami semua harus menonton gambar yang hanya menyiarkan rekaman kepala negara Cina sedang berbicara. Jika saat itu bergerak maka akan diberi hukuman,” lanjut Gulbahar.

Bagi tahanan yang mendapat sanksi akan dikeluarkan dari kamp dibawa ke sebuah ruangan berisi petugas untuk diintrogasi. “Saat diinterogasi, tahanan tidak dikasih makan dan minum. Lalu oleh petugas diancam dan diintimidasi agar mematuhi aturan dan tidak memberitahukan kepada siapapun termasuk kepada keluarga sendiri,” jelas Gulbahar.

Akibatnya Gulbahar mengungkapkan, kondisi tahanan di kamp, sangat menyedihkan. Apalagi tahanan hanya diberi makan roti sebesar sekepal tangan dan sedikit air.

“Saya lihat banyak warga muslim Uighur khususnya wanita yang sudah berumur kondisinya sangat memprihatinkan. Karena mereka dalam keadaan kelaparan dan kehausan. Banyak yang menderita sakit dan dirawat. Banyak tawanan yang shock dan stres. Jika sudah begitu, mereka seperti tinggal menunggu ajalnya saja. Sedangkan apabila ada tawanan pingsan, lalu ada yang ikut menolong, tawanan yang menolong akan dihukum berat,” urai ibu dari tiga orang anak tersebut.

Meski begitu Gulbahar  mengaku masih beruntung. Sebab, dengan statusnya sebagai warga negara Kazakistan, perlakuan yang diterima tidak seburuk tawanan wanita lain yang merupakan warga asli Uighur.

Kini, Gulbahar sudah bisa bernafas lega. Dirinya telah dibebaskan dari kamp tahanan. Namun Gulbahar menegaskan, dirinya akan terus mengungkap peristiwa tersebut kepada publik. “Dengan kesaksian saya tersebut, mudah-mudahan masyarakat dunia terketuk untuk membantu menyelesaikan masalah tersebut,” pungkas Gulbahar.