SETARA Institute: Sistem Penjara Napiter Harus Dievaluasi

Polisi Berjaga di Mako Brimob

MONITOR, Jakarta – Penyerangan narapidana teroris terhadap aparat kepolisian di Mako Brimob, Selasa (8/5), memakan korban jiwa 5 orang dari aparat dan 1 narapidana teroris. Mengenai insiden yang terjadi, SETARA Institute menyampaikan duka atas gugurnya sejumlah anggota Polri dalam penanganan kerusuhan tersebut.

Ketua SETARA Institute Hendardi menyatakan, peristiwa yang terjadi menunjukkan bahwa penanganan narapidana dan lembaga pemasyarakatan terorisme tidak bisa menggunakan standar biasa karena narapidana teroris masuk kategori high risk dan perlu penanganan khusus.

Menurutnya, pemerintah harus memberikan dukungan penguatan Lapas untuk jenis-jenis kejahatan serius. Hendardi melihat, aksi penyerangan oleh napi terorisme menunjukkan bahwa kekuatan kelompok teror masih eksis dan efektif berjejaring dan terus menjadi ancaman bagi keamanan.

“Peristiwa ini mengingatkan semua pihak untuk tidak berkompromi dengan radikalisme dan terorisme yang mengancam keamanan dan ideologi bangsa,” ujar Hendardi dalam keterangan yang diterima MONITOR, Kamis (10/5).

Untuk meminimalisir terorisme di tengah
masyarakat, Hendardi menegaskan perlu adanya upaya pencegahan dari mulai hulu, yakni intoleransi.

“Semua pihak harus menghentikan politisasi isu intoleransi dan radikalisme hanya untuk kepentingan politik elektoral 2018 dan 2019, yang justru memberikan ruang bagi kebangkitan kelompok ekstrimis,” tegasnya.

Jamkrindo-Jaminan Kredit Indonesia