Pentingnya Data Keluarga untuk Program Pengentasan Kemiskinan

MONITOR, Jakarta – Pagi ini, Selasa (4/4) Prof Dr Haryono Suyono didampingi Dr Mazwar Noerdin bersilaturahmi dengan deputi Litbang Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Dr Rizal M Damanik di kawasan Halim, Jakarta Timur.

Ketiganya berbincang tentang perlunya data keluarga untuk program pengentasan kemiskinan di Indonesia.

Rizal M Damanik dalam pertemuan tersebut menjelaskan, BKKBN memiliki data yang sangat baik untuk dipergunakan mengukur jumlah keluarga miskin yang perlu diintervensi oleh pemerintah.

"BKKBN memiliki data keluarga yang sangat baik, dan bisa dipergunakan untuk mengukur jumlah keluarga miskin yang perlu diintervensi untuk ditingkatkan menjadi keluarga lebih sejahtera," papar Rizal Damanik.

Ya, seperti diketahui, kemiskinan masih menjadi masalah serius di negeri ini, data BPS mengatakan, Pada bulan September 2017, jumlah penduduk miskin (penduduk dengan pengeluaran per kapita per bulan di bawah Garis Kemiskinan) di Indonesia mencapai 26,58 juta orang (10,12 persen), berkurang sebesar 1,19 juta orang dibandingkan dengan kondisi Maret 2017 yang sebesar 27,77 juta orang (10,64 persen).

Bukan tidak mungkin, jika angka kemiskinan tersebut, ditambah data jumlah keluarga miskin yang perlu diintervensi oleh pemerintah, angka kemiskinan kedepan akan berkurang.

Pasalnya, faktor penyebab penduduk miskin di Indonesia diantaranya yakni adanya pertumbuhan penduduk yang jauh lebih tinggi dari pertumbuhan ekonomi. Sementara BKKBN telah lama fokus untuk menekan angka pertumbuhan penduduk agar sejalan dengan pertumbuhan ekonomi.

Seperti yang dilakukan BKKBN dibeberapa daerah yang menggandeng PKK untuk menekan angka kemiskinan. Dengan turun langusng hingga ke tingkat desa, BKKBN dan PKK diyakini mampu menyukseskan program BKKBN, yakni dua anak cukup serta peningkatan kualitas sumber daya manusia dengan data yang mumpuni.