PB PMII Turut Tandatangani “The Jakarta Message” di 7th World Peace Forum

World Peace Forum (Jakarta 14-16 Agustus 2018).

MONITOR, Jakarta – Pengurus Besar Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PB PMII) yang diwakili Sahabat M Abdullah Syukri sebagai Kepala Biro Beasiswa Bid Hubungan Internasional terlibat dalam World Peace Forum (Jakarta 14-16 Agustus 2018).

Acara yang diselenggarakan oleh Utusan Khusus Presiden untuk Dialog dan Kerja Sama Antar Agama dan Peradaban (UKP DKAAP) Prof Dr Din Syamsuddin, The Centre for Dialogue and Cooperation among Civilizations (CDCC) dan The Cheng Go Multi-Cultural & Education Trust of Malaysia ini menghadirkan 100 tokoh perdamaian dunia dan 150 tokoh dari berbagai elemen di Indonesia. Forum ini juga dibuka langsung oleh Menteri Luar Negeri RI, Retno Marsudi.

Dalam dialog dan obrolan dengan tokoh-tokoh yang hadir, sahabat M Abdullah Syukri yang hadir mewakili Ketua Umum PB PMII Sahabat Agus M Herlambang ini turut menyampaikan beberapa pandangan terkait perdamaian dunia, diantaranya:

1. Mahasiswa harus menjadi driver utama dalam pembenahan arus isu politik dan agama yang dianggap menjadi sumber pertikaian di berbagai belahan dunia, utamanya di Indonesia. PMII meyakini politik dan agama seharusnya adalah sumber inspirasi pembangunan dunia, bukan sumber konflik dan pertikaian. Untuk itu mahasiswa harus menjadi pionir dalam mencegah dan menangani kesalahpahaman ini dari berbagai sektor sesuai keilmuannya.

2. Mendorong keterlibatan pemuda dalam ruang-ruang dialog perdamaian yang lebih luas. Keterlibatan pemuda sangat penting sebagai investasi bibit-bibit pemimpin unggul pro perdamaian untuk masa yang akan datang.

3. Dibuatnya kurikulum wajib yang spesifik membahas perdamaian dunia di sekolah hingga universitas. Diharapkan tergali banyak gagasan baru sebagai solusi atas konflik-konflik di dunia yang lahir dari pemikiran segar para pelajar dan mahasiswa.

4. Mengajukan tawaran kepada para aktifis mahasiswa di dunia untuk mencontoh PMII, utamanya terhadap nilai-nilai yang dipegang PMII dalam menumbuhkan jiwa nasionalisme yang mengutamakan persatuan dan kasih sayang tanpa meninggalkan sisi religiusitas. Poin ini sebagai jawaban bahwa ada kecenderungan di dalam masyarakat muda yang menganggap agama tidak lagi penting, menghambat kemajuan dan sebagai sumber konflik.

M Abdullah Syukri (Kepala Biro Beasiswa Bidang Hubungan Internasional PB PMII) dalam World Peace Forum

“PMII selalu menghadirkan berbagai solusi dalam setiap eranya, dalam hal ini (perdamaian dunia) PMII mengecam segala bentuk pertikaian di belahan dunia manapun dan merumuskan usulan-usulan tadi (yang sudah disebutkan). Sudah saatnya masyarakat dunia berkiblat kepada Indonesia dalam mengarusutamakan perdamaian dalam bingkai nasionalis-religius. Dan PMII siap memberikan inspirasi dan bekerjasama dengan pemuda di seluruh dunia dalam berkontribusi pada usaha-usaha menuju perdamaian baik itu ditingkatan regional, nasional maupun global” Ujar Abdullah Syukri melalui keterangan tertulisnya, Jumat (17/8/2018).

Kader PMII pemegang gelar master ilmu politik dari Jerman ini juga berpesan kepada seluruh kader PMII di berbagai tingkatan kepengurusan untuk menggalakkan kajian-kajian isu internasional yang terkait dalam berbagai bidang strategis seperti perdamaian, revolusi industri 4.0, perubahan iklim bumi, global governance, pembangunan ekonomi dunia dan lain sebagainya.

Menurutnya, hal tersebut sangat signifikan untuk PMII sebagai salah satu organisasi mahasiswa terbesar di dunia dalam melibatkan diri di kancah pergaulan internasional dan pertarungan isu-isu global.

“Sangat disayangkan jika PMII dengan sumber daya kadernya yang melimpah justru tertinggal dalam agenda pembangunan global, PMII harus terlibat aktif dan penuh” tandasnya.

Di akhir sesi, seluruh peserta forum tersebut menandatangani “The Jakarta Message” yang berisi pesan-pesan perdamaian untuk seluruh stakeholders di dunia tentang jalan tengah sebagai usaha mewujudkan perdamaian dunia.

Diantara isi pesan tersebut adalah mendorong kerjasama seluruh pihak dalam mengimplementasikan jalan tengah di bidang agama, politik, ekonomi dan sosial budaya, mendorong negara-bangsa untuk membuat aturan dan mekanisme untuk mengimplementasikan jalan tengah di negara masing-masing dan mendorong para akademisi untuk menggiatkan riset dan kegiatan pendidikan yang berkaitan dengan jalan tengah untuk perdamaian dunia.