Panglima TNI: Pramuka Berperan hadapi Tiga Ancaman Bangsa

MONITOR, Bogor – Kwartir Nasional (Kwarnas) menggelar Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Gerakan Pramuka di Royal Safari Garden Hotel, Cisarua, Bogor pada 23-25 Februari 2018. Pada kesempatan tersebut, disampaikan pandangan Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto bahwa Gerakan Pramuka dapat ikut berperan menghadapi berbagai ancaman yang mendera bangsa Indonesia.

“Ini kesempatan baik bagi Gerakan Pramuka mengambil peran dalam konteks mengadakan perubahan terhadap kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara sebagai bagian solusi dalam mengadapi berbagai ancaman,” ungkap Pa Sahli Tk. III Bid. Hubungan Internasional Panglima TNI, Mayjen Herindra, yang membacakan pidato Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto, Jumat malam (23/2).

Menurut dia, di antara ancaman yang dihadapi bangsa Indonesia yang paling signifikan adalah ancaman siber, ancaman biologis, dan ancaman kesenjangan ekonomi. Terkait siber, kata panglima, ancaman yang muncul sebenarnya dikarenakan dunia siber telah menjadi realita baru dalam kehidupan manusia modern. Saat ini lebih dari separuh penduduk dunia telah secara aktif terhubung ke dunia siber yang mengakibatkan berbagai ancaman di dunia nyata.

“Mulai dari yang paling sederhana seperti pencurian identitas untuk pencurian atau penipuan, hingga penyebaran konten negatif dan hoaks untuk menghasut opini massa. Hal yang lebih mengkhawatirkan lagi adalah melalui kemajuan pengolahan data digital, baik profil maupun preferensi seseorang dapat dilacak melalui jejak digitalnya di dunia maya. Melalui metode tersebut maka di masa kini, sangat dimungkinkan dilakukannya indoktrinasi dan perekrutan seseorang secara individual untuk menjadi teroris tunggal atau yang dikenal dengan lone wolf,” ungkapnya.

Ancaman berikutnya ialah di bidang biologis. Hal yang menjadi keprihatinan, katanya, adalah karakteristik agen pembawanya yang sangat sulit dideteksi, karena berbaur dengan fenomena alam. Padahal, menurut data yang ada, setidaknya 17 juta orang meninggal dunia setiap tahun akibat penyakit yang disebarkan oleh agen biologis.

Sementara itu, melalui kemajuan rekayasa genetika yang ada, produksi virus atau bakteri sebagai senjata menjadi semakin mudah dilakukan. “Pada aplikasinya, penggunaan agen biologis sebagai senjata juga tidak hanya menyasar pada aspek kesehatan. Lebih jauh, agen biologis juga dapat digunakan untuk merusak sasaran pada aspek lain seperti ekonomi, politik dan bahkan kedaulatan negara,” ungkapnya.

Ancaman lainnya adalah kesenjangan ekonomi. Penguasaan teknologi dan inovasi oleh sekelompok orang akan menghasilkan keberlimpahan, namun tetap merupakan krisis bagi pihak yang tidak memilikinya. Hal ini berpotensi menciptakan fenomena kesenjangan ekonomi yang semakin lebar di lingkup masyarakat.

“Dalam lingkup setempat, kesenjangan inilah yang selanjutnya melahirkan berbagai paham kekecewaan yang anti-mainstream; dalam wujud fanatisme, radikalisme, atau populisme. Semakin besar kesenjangan ekonomi, maka akan semakin banyak pertumbuhan bentuk-bentuk fanatisme, radikalisme dan populisme yang pada akhirnya berusaha mendeligitimasi mainstream, yang dalam hal ini berwujud otoritas atau pemerintah yang sah,” pungkasnya.

Sementara itu, Ketua Kwarnas Gerakan Pramuka Adhyaksa Dault menyatakan, Pramuka telah mengambil peran aktif dalam rangka menghadapi ancaman bangsa melalui kegiatan-kegiatan positif yang melibatkan kaum muda. Ada ribuan kegiatan Pramuka setiap minggunya diadakan oleh Gerakan Pramuka dari berbagai tingkatan di seluruh Indonesia, seperti perkemahan sabtu minggu, perkemahan kenaikan tingkat di Gudep-Gudep, bakti sosial, bina diri, bina satuan, bina masyarakat, dan lain-lain.  Kegiatan-kegiatan tersebut, lanjutnya, tidak mudah karena umumnya dilaksanakan di luar ruangan.

“Kami tidak bersedih meskipun jarang kegiatan tersebut, maupun kegiatan kerelawanan Pramuka lainnya yang diliput media. Kami beruntung berkat pendidikan yang diberikan senior-senior Gerakan Pramuka terdahulu, kami memiliki Kakak-Kakak pembina yang ikhlas meluang waktu, pikiran dan tenaga. Tujuannya satu, yaitu membangun Negara Kesatuan Republik Indonesia, mengamalkan Pancasila, serta melestarikan lingkungan hidup,” ungkapnya.

Adhyaksa menjelaskan, Gerakan Pramuka di 34 Provinsi, 514 Kota/Kabupaten terlibat aktif kampanye internet sehat. Bahkan, Kwarnas juga merumuskan dan menyosialisasikan 10 Tugas Pramuka di Media Sosial yang pada poin keempat berbunyi: Membela dan mengamalkan Pancasila, NKRI, UUD 1945, Bhinneka Tunggal Ika, serta merawat harmoni dan solidaritas antarwarga di media sosial.

Rakernas Gerakan Pramuka dibuka oleh Ketua Kwarnas Gerakan Pramuka Adhyaksa Dault di ruang Balroom, Royal Safari Garden Hotel, Cisarua, Bogor pada Jumat malam, 23 Februari 2018. Diikuti utusan dari 34 Kwarda dari seluruh Indonesia, Rakernas kali ini mengambil tema “Pramuka untuk Indonesia, Perekat NKRI.”