Membaca Semesta

MONITOR, – Kemana matamu kau palingkan, apa yang kamu lihat? Kemana telingamu kau arahkan, apa yang kamu dengar? Kemana rasamu kau kerahkan, apa yang kamu rasakan? Seluruh peristiwa indra yang dirasakan itu adalah peristiwa membaca. Maka, apapun yang kau baca itu, segera sadarilah, segera nyatakanlah, bahwa sejatinya segenap yang kamu baca itu hanyalah Allah. Hanyalah membaca Allah. Hanyalah mendengar Allah. Hanyalah merasakan Allah.

Masihkah engkau sangsi? Apakah menurutmu peristiwa membaca bukan mengumpulkan dan mengutuhkan segalanya? Itulah bila manusia membaca dengan ketauhidanNya. Apakah yang mau engkau baca hanya kisah kisah semesta yang indah-indah saja? Apakah kamu hanya mau mendengar cerita-cerita cinta dan asmara saja? Apakah kamu hanya mau melihat peristiwa-peristiwa indah memesona? Bukankah segalanya Sempurna? Bukankah pesan-pesan yang Dihadirkan DariNya Meliputi SegalaNya.  Hikmah dari segenap peristiwa adalah Pesan Nyata dariNya.

Mengapa sering engkau tolak pesan-pesan IndahNya, hanya lantaran tak sesuai dengan pikiran dan egomu. Sebenarnya siapa yang berhak Memiliki Hikmah kalau bukan Dia? Jika hanya Dia, mengapa engkau memilih-milih kisah? Mengapa? Atau jangan-jangan, selama ini engkau sudah merasa memiliki sejumlah konsep tentang kebaikan, kebenaran, kebijaksanaan? Apa yang kamu miliki? Apa, Sahabatku. Bukankah SegalaNya Hanya Milik Dia.  Kenapa engkau masih juga abaikan Kenyataan itu?                        

Sahabat, tahukah engkau, puncak dari Tauhid?
Ahli Tauhid itu, bukan seorang yang mampu menembus langit-langit ilahiyah. Bukan seorang yang mampu menembus alam-alam nasut, malakut, jabarut, bahkan lahut. Bukan pula yang mampu berjalan di atas air. Bukann pula seorang yang tahan api dan tosan aji. Bukan pula yang mampu menghilang dan lenyap di penjuru cakrawala. Sama sekali bukan. Puncak Tauhid adalah manusia biasa yang senantiasa berbagi dan memanusiakan manusia.

Jika kamu bakhil, itu tanda kamu masih merasa memiliki sesuatu. Dan itu jelas bukan laku Tauhid. Jika kamu pendendam, maka ada wilayah di hatimu yang merasa engkau lebih baik dari yang lain. dan itu adalah sikap Iblis. Jika kamu takut miskin, maka masih ada di hatimu ketakutan selain kepada Allah. Dan itu artinya engkau menduakanNya. Jika…ah, jika. Jika dan jika. Beribu jika justru akan menjadi jalan lempang menuju kemusyrikan!

Apakah kehilanganmu membuat kamu merasa Allah meninggalkanmu? Apakah ketiadaan sesuatu yang kamu cari lalu kamu anggap bahwa Allah menjauhimu? Duh Gusti, adakah yang lebih dekat selain Dia? Bagaimana mungkin Dia Tinggalkan kita, sementara kita berasal dariNya. Kalau pun iya, maka kita sendirilah yang menutupi dan sembunyi dengan segala keangkuhan dan kesombongan. Maunya ngatur sendiri di kehidupan ini.

Untuk apa Membaca Semesta, kalau bukan untuk mengerti. Untuk apa mengerti kalau bukan untuk Memahami. Untuk apa Memahami kalau bukan dilakoni. Untuk apa dilakoni kalau bukan untuk berbagi. Untuk apa berbagi kalau masih merasa memiliki. Untuk apa merasa memiliki kalau ternyata kita tak punya apapun, karena segalanya hanyalah MILIK Allah. 

Atau…engkau akan tetap bersikukuh dan bersikeras untuk menggenggam apa yang kamu anggap kamu miliki itu sampai Allah sendiri yang akan merebut darimu?

Serahkan lah segalanya kepadaNya. Seperti engkau menyerahkan nyawa kepada Tuhan. Bukankah nyawa itu hanyalah titipan Tuhan? Maka serahkanlah dengan kepasrahan, dengan cinta kasih, dengan kerelaan dan kebahagiaan. Bukankah saat engkau pasrah menyerahkan SEGALANYA,,, maka kenikmatan dan kebahagiaan terasakan langsung olehmu?

Saudaraku, kalau tiap malam Tuhan Datang ke kamu untuk minta tolong ambilkan air di atas gunung salju, apakah engkau bersedia? Kalau tiap malam Tuhan Datang untuk minta disisirkan rambutNya, apakah engkau bersedia? Kalau tiap malam Tuhan Datang Minta kamu sujud kepadaNya, apakah engkau bersedia? Kalau suatu malam Tuhan Datang untuk mengambil kembali Nyawa yang memang MILIK Tuhan, apakah engkau bersedia?

Sekali lagi, Tauhid bukan semata kata-kata! Bila Tauhid hanya kata-kata, maka burung beo pun bisa! Tauhid sungguh laku nyata dari segenap diri sang hamba. Dari jasad, jiwa, hingga ruhani, semua lebur dalam RasaNya. 

Membaca Semesta, adalah menyerahkan diri kepada Allah. Dan itulah Sejatinya IQRO!

وَأَن لَّوِ اسْتَقَامُوا عَلَى الطَّرِ‌يقَةِ لَأَسْقَيْنَاهُم مَّاءً غَدَقًا

“Dan sekiranya mereka mengokohkan diri di atas thariqah, sungguh Kami benar-benar Memberikan pada mereka air menyegarkan.” (Al-Jin: 16)

وَلَقَدْ أَوْحَيْنَا إِلَىٰ مُوسَىٰ أَنْ أَسْرِ‌ بِعِبَادِي فَاضْرِ‌بْ لَهُمْ طَرِ‌يقًا فِي الْبَحْرِ‌ يَبَسًا لَّا تَخَافُ دَرَ‌كًا وَلَا تَخْشَىٰ

 “Dan sungguh, telah Kami wahyukan pada Musa, ‘Tempuhlah perjalanan di “malam hari” bersama para hamba-Ku, buatlah untuk mereka jalan kering di laut (thariqan fil bahr). Tak perlu cemas akan dikejar, dan tak perlu takut.” (Thaahaa: 77)

Kuncen Umah Suwung
@abdullah_wong