Lima Pesan Menag untuk Layanan Haji di Indonesia

Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin (kiri) bersama Ketua Komisi VIII DPR Ali Taher Parasong (dok: Humas kemenag)

MONITOR, Jakarta – Berdasarkan survei Badan Pusat Statistik (BPS), Indeks kepuasan jemaah haji Indonesia (IKJHI) di Arab Saudi pada tahun 1439H/2018M meningkat menjadi 85,23. Hal ini menandakan secara umum layanan pemerintah kepada jemaah haji Indonesia telah memenuhi kriteria “sangat memuaskan”.

Mengetahui capaian ini, Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin pun bersyukur. Meski demikian, ia tetap mendorong Kementerian Agama untuk terus melakukan inovasi terhadap layanan haji.

“Setidaknya saya mengingatkan beberapa hal yang perlu menjadi perhatian dan harus menjadi inovasi pada penyelenggaraan ibadah haji di tahun 2019,” ujar Menag di Sentul, Bogor, Rabu (5/12) lalu.

Pertama, penerapan fast track pada seluruh bandara pemberangkatan. “Kalau tahun ini baru dapat kita laksanakan di Bandara Sokarno Hatta, maka usahakan tahun depan sudah dapat dilaksanakan di seluruh bandara,” kata Menag.

Kedua, penempatan jemaah haji berdasarkan sistem zonasi. Hal ini menurut Menag bertujuan agar dapat meningkatkan kenyamanan sekaligus pelayanan bagi jemaah di tanah suci. “Tentu orang Bugis akan lebih senang jika tempat tinggalnya di sana berdekatan dengan orang Makasar. Selain bahasa yang digunakan, ini juga memudahkan kita bila ingin menentukan menu katering. Sehingga akan lebih dekat seleranya dengan masing-masing jemaah,” kata Menag

Ketiga, penggunaan air conditioner (AC) di Arafah. Menurut Menag ini perlu menjadi perhatian, karena dalam survei BPS pun disebutkan bahwa pelayanan di Arafah, Muzdalifah dan Mina memperoleh nilai paling rendah, yakni 82,60. Sementara pelayanan di Makkah memperoleh indeks 87,34. Dan pelayanan di Madinah memiliki indeks 85,37.

Keempat, Menag berharap pada penyelenggaraan haji 2019, Direktorat Penyelenggaraan Haji dan Umrah menyiapkan sistem pelaporan petugas digital. “Seluruh petugas kita harus sudah bisa melakukan pelaporan secara digital. Siapkan dalam sebuah aplikasi terintegrasi,” pesan Lukman.

Sementara, penguatan manasik haji menjadi hal kelima yang perlu mendapatkan perhatian penyelenggaraan haji 2019. “Kita perlu memperkuat manasik hajinya. Kita perlu memikirkan terkait inovasi manasik haji, dengan membuat audio visual atau lain sebagainya,” tandasnya.