ISTIQOMAH

Selama ini kita sering dengar mantra ini: Istiqomah. Apa sih sebenarnya?

Istiqomah berasal dari kata Bahasa Arab qoma – yaqumu – qiyaaman, yang artinya berdiri. Kemudian diberikan tambahan alif, sin, dan ta yang memberikan dampak makna proses. Maka kemudian terbaca istaqoma – yastaqimu – istiqooman. Jadi, istiqomah adalah masdar (kata benda) yang bermakna Senantiasa Memberdirikan. Atau Proses untuk selalu berdiri. Berdiri di sini artinya diselenggarakan.

Istiqomah kemudian menjadi istilah dari laku (praktik) yang dilaksanakan secara rutin atau terus menerus. Nah, bila mau dicermati, di dalam Istiqomah itu akan berlangsung beberapa hal berikut:
1. Ketelitian
2. Disiplin Tinggi
3. Kecermatan
4. Kepekaan
5. Rutinitas

Berikut penjelasannya:

Ketelitian
Orang istiqomah akan selalu teliti. Dirinya selalu sadar apa saja yang mesti dilakukan, disampaikan dan bagaimana ia menyampaikan secara menyeluruh. Teliti ini termasuk apa yang sedang dilakukan apakah sudah tepat atau tidak.

Disiplin Tinggi
Orang istiqomah pasti punya disiplin tinggi. Dia tidak akan memundurkan atau memajukan jadwal jadwal yang sudah ditentukan kecuali ada momen atau hal yang sangat sangat darurat. Sekali lagi sangat darurat.

Kecermatan
Istiqomah itu butuh kecermatan. Cermat adalah kecerdasan menangkap momentum. Sehingga kebiasaan sehari harinya akan ditangkap dan direkam sebagai khazanah perjalanan dirinya. Khazanah yang dimaksud adalah semua hal yang Allah berikan dalam kekinian. Seorang yang istiqomah akan selalu dan selalu menyadari bahwa apapun yang dirasakan hari ini, detik ini, adalah yang terbaik dariNya.

Kepekaan
Kalau mengaku istiqomah tapi nggak peka, namanya bukan istiqomah. Peka itu bukan hanya sensitive merespon sesuatu. Peka adalah punya ketajaman menyadari kedirian. Hal ini bisa dilatih dengan imajinasi. Bagaimana imajinasinya? Imajinasi yang bisa dilatih adalah seakan di mana pun dan kapan pun selalu saja ada yang bertanya ke diri kita. Lalu apa pertanyaannya? Pertanyaannya adalah: “Detik ini kamu lagi ngapain?” Dan tentu saja yang bertanya adalah diri kita sendiri. Maka, orang istiqomah tak akan bosan untuk mewawancarai dirinya sediri bahwa dirinya sedang ngapaian, mikir apaan, bagaimana? Apakah si aku sedang ingat Allah atau sedang mengabaikan Allah?

Rutinitas
Inilah puncak Istiqomah. Rutin, kebiasaan, atau Habit. Bahkan nantinya menjadi tradisi atau laku diri setiap hari. Bahkan WS Rendra dalam satu kesempatan pernah bilang, _”untuk mengasah jiwa, manusia mesti melakukan kegiatan rutin.”_

Kegiatan rutin ini banyak ragamnya. Dan kegiatan rutin ini lah yang akan membentuk kedirian kita. Rutin itu bisa terlihat dari kegiatan ragawi seperti rutin menyiram bunga, rutin mencangkul di pagi hari, rutin berangkat ke kantor, ke sekolah, rutin duduk hening, rutin bekerja. Dan seterusnya. Maka silakan amati, apa sih rutinitas kita? Misal, apakah kita rutin untuk hening data ada adzan? Kemudian rutin mengambil wudhu saat adzan berlangsung? Itu misalnya.

Rutinitas di sini ini tentu bukan rutin seperti robot yang tanpa kesadaran. Tapi satu laku diri atau habit diri yang sudah berlangsung secara mengalir. Misal, kalau bangun pagi, yang pertama kali dicari itu hp atau air wudhu? Ketika mau tidur yang dilakukan wudhu atau main hp? Begitu seterusnya.

Tidak ada salahnya kalau kita coba latihan istiqomah. Misalnya, siapkan tanaman di halaman rumah yang akan dijadikan latihan istiqomah untuk disirami setiap hari. Silakan tentukan jamnya. Tentukan kadar airnya. Bila perlu air yang akan disiramkan sudah disiapkan. Amati latihan itu dalam minggu pertama. Apakah kita mulai kerepotan? Apakah kita akan punya alasan-alasan?

Dalam perkembangannya, tanpa sadar, kita sudah akan mulai berdialog dengan tanaman. Karena sudah mulai muncul intensitas keintiman antara kita dan tanaman. Lama-lama, kita pun akan kangen dan punya ikatan batin dengan hal yang kita rutinkan itu.

Maka bisa dibayangkan, *jika yang kita lakukan rutin itu negatif, maka jiwa pun akan meminta untuk melakukan kembali hal negatif itu.*

Syekh Ibnu Athaillah pernah membuat pernyataan:
Al-Istiqomah khoiru min alfi karomah
(Istiqomah itu lebih keren dari 1000 keramat)

Kita mungkin beranggapan bahwa keramat itu kalau sudah bisa jalan di atas air. Bisa terbang seperti burung. Bisa menghilang atau tembus tembok. Atau bisa membaca pikiran orang. Punya ilmu penerawangan. Atau kebal semua jenis senjata, dan sebagainya. Keramat itu semua, tak ada apa apanya dibanding dengan amal yang Istiqomah.

Maka, para ‘arif sering mengatakan, ayat Ihdinashirothol Mustaqim dalam Surat Al-Fatihah itu bukan hanya dalam pengertian “Berikanlah kami Jalan Yang Lurus” tapi juga Berikanlah kami Anugerah Istiqomah Tentu saja istiqomah merawat keimanan dan keislaman kita.

Perlu disadari, dari rutinitas ini pula, akan terlihat siapa sebenarnya kita. Sebagaimana sebuah peribahasa pernah menyebutkan, *”Kita adalah bagaimana kebiasaan kita.”*

Demikian, semoga bermanfaat.

abdullah wong
kunceng umah suwung