Hari Kebangkitan Nasional Ke-110: Persatuan adalah ‘Bahan Bakar’ Kemerdekaan

MONITOR, Jakarta- Dalam memperingati hari kebangkitan nasional ke-110 Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) melakukan upacara Peringatan sekaligus mengusung tema ‘Pembangunan Sumber Daya Manusia Memperkuat Pondasi Kebangkitan Nasional Indonesia Dalam Era Digital’ yang dipusatkan di Gedung Sekretariat Jenderal Kementerian ESDM dan dihadiri seluruh Pejabat serta Pegawai Kementerian ESDM.

Mengingat kembali, menjadi sebuah bangsa yang merdeka membutuhkan pengorbanan dan proses yang panjang. Persatuan adalah kata kunci bangsa Indonesia untuk mendapatkan kemerdekaan dari penjajahan, seperti yang dicontohkan organisasi pemuda ‘Boedi Oetomo’ yang berkumpul dan berorganisasi tanpa melihat asal-muasal primordial, dan akhirnya bisa mendorong tumbuhnya semangat nasionalisme yang menjadi bahan bakar utama kemerdekaan.

“Ketika rakyat berinisiatif untuk berjuang demi meraih kemerdekaan dengan membentuk berbagai perkumpulan, lebih dari seabad lalu, kita nyaris tak punya apa-apa. Kita hanya memiliki semangat dalam jiwa dan kesiapan mempertaruhkan nyawa. Namun, sejarah kemudian membuktikan bahwa semangat dan komitmen itu saja telah cukup, asalkan kita bersatu dalam cita-cita yang sama untuk meraih kemerdekaan bangsa,” ujar Sekretaris Jenderal Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ego Syahrial, yang bertindak selaku Pembina Upacara Hari Kebangkitan Nasional Ke 110 Tahun 2018 di Kementerian ESDM, Senin (21/5).

“Bersatu, adalah kata kunci ketika kita ingin menggapai cita-cita yang sangat mulia,” tambah Ego.

Boedi Oetomo lanjut Ego, telah memberikan contoh bagaimana dengan berkumpul dan berorganisasi tanpa melihat asal-muasal primordial akhirnya bisa mendorong tumbuhnya semangat nasionalisme yang menjadi bahan bakar utama kemerdekaan. Boedi Oetomo menjadi salah satu penanda utama bahwa bangsa Indonesia untuk pertama kali menyadari pentingnya persatuan dan kesatuan.

Pentingnya persatuan dan rentannya perpecahan diilustrasikan Bung Karno dengan sapu lidi. Persatuan bangsa seperti layaknya sapu lidi. Jika tidak diikat, maka lidi tersebut akan tercerai berai, tidak berguna dan mudah dipatahkan. Tetapi jikalau lidi-lidi itu digabungkan, diikat menjadi sapu, mana ada manusia bisa mematahkan sapu lidi yang sudah terikat?

Gambaran sapu lidi tersebut menurut Ego, aktual sekali pada masa sekarang ini. “Kita merasakan bahwa ada kekuatan-kekuatan yang berusaha merenggangkan ikatan sapu lidi kita. Kita disuguhi hasutan-hasutan yang membuat kita bertikai dan tanpa sadar mengiris ikatan yang sudah puluhan tahun menyatukan segala perbedaan tersebut”, jelas Ego.

“Inilah masa yang sangat menentukan bagi kita. Inilah era yang menuntut kita untuk tidak buang-buang waktu demi mengejar ketertinggalan dengan bangsa-bangsa lain. Momentum sekarang ini menuntut kita untuk tidak buang-buang energi untuk bertikai dan lebih fokus pada pendidikan dan pengembangan manusia Indonesia,” pungkas Ego.