Geser Posisi Singapura di Bidang Publikasi Ilmiah, Ini Harapan Menristekdikti

MONITOR, Jakarta – Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) dalam tiga tahun terakhir terus menggenjot peningkatan jumlah publikasi ilmiah Indonesia. Hal itu dilakukan melalui berbagai kebijakan demi mendorong para profesor, dosen dan peneliti untuk produktif menulis publikasi ilmiah. 

Publikasi bukan hanya sebagai tugas dan kewajiban semata. Namun, menjadi tolak ukur keberhasilan sebuah riset. kemajuan suatu bangsa dapat dilihat dari riset maupun pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Kebijakan Kemenristekdikti untuk mendongkrak publikasi ilmiah Indonesia, seperti mengeluarkan aturan melalui Permenristekdikti No. 20/2017 tentang Pemberian Tunjungan Profesi Dosen dan Tunjangan Kehormatan Profesor. 

Permenristekdikti 44/2015 tentang yang mewajibkan para lukusan S2 dan S3 utk berpublikasi. Kemenristekdikti pada tahun 2017 juga meluncurkan Science and Technology Index (SINTA), pengindeks publikasi dan sitasi jurnal ilmiah untuk mendorong kultur publikasi bagi dosen dan peneliti di Indonesia. 

Usaha tersebut ternyata tidak sia-sia. Terbukti setelah melampaui Thailand sampai akhir 2017 dengan jumlah publikasi ilmiah internasional Indonesia mencapai angka 18.500, pada triwulan pertama 2018 Indonesia kembali berhasil menggeser Singapura, menempati urutan ke-2 di ASEAN setelah Malaysia.

Berdasarkan data dari Direktorat Jenderal Penguatan Riset dan Pengembangan, jumlah publikasi ilmiah Indonesia terindeks Scopus per 6 April 2018 berhasil melampaui Singapura dan Thailand. Adapun jumlah publikasi ilmiah internasional Indonesia sebanyak 5.125, Singapura dan Thailand sebanyak 4.948 dan 3.741. Sementara Malaysia sebanyak 5.999.

Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi, Mohamad Nasir mengatakan bahwa kuantitas publikasi ilmiah internasional Indonesia harus berbanding lurus dengan kualitasnya. 

"Ini merupakan pencapaian yang sangat bagus bagi Indonesia. Namun permasalahannya, jumlah publikasinya meningkat drastis, tapi sitasinya menurun. Untuk itu kualitas dari jurnal-jurnal yang ada di Indonesia harus didorong terus agar makin baik," ungkap Nasir di Kantor Kemenristekdikti, Kamis (12/4).

Dengan adanya momentum ini, Nasir mengingatkan agar para akademisi dan peneliti tidak hanya mengejar kuantitas namun juga diharapkan dapat menjaga kualitas publikasi ilmiahnya. Tentu publikasi bukan merupakan satu satunya ukuran riset, tetapi kemanfaatan kepada masyarakat yang menjadi acuan utamanya. Untuk itu, program untuk mendorong agar hasil riset dimanfaatkan oleh masyarakat juga terus didorong, antara lain melalui pengabdian kepada masyarakat. 

"Pada tahun ini program-program seperti itu dilakukan diberbagai tempat dengan berbagai skema sebanyak dua ribuan lebih. Semoga program-program tersebut semakin mendapat perhatian kita bersama," tutup Nasir.