FSGI Paparkan Faktor Menyusupnya Paham Radikal di Sekolah

Ilustrasi siswa sedang mengikuti proses pembelajaran

MONITOR, Jakarta – Menyusupnya bibit radikalisme pada anak-anak sekolah menjadi satu catatan merah bagi dunia pendidikan. Belum lama ini, pelaku teror di Surabaya mengikutsertakan keempat anaknya, yang masih duduk di bangku sekolah, untuk menjadi pengantin bom bunuh diri. Fenomena ini lantas menjadi sorotan Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI).

Mengenai tumbuhnya bibit radikalisme di lingkungan sekolah, Sekjen FSGI Heru Purnomo menilai bahwa sikap siswa yang terbuka terhadap praktik intoleransi mulai berkembang di kelas ketika diajar oleh guru yang membawa pandangan politik pribadinya ke dalam kelas.

“Guru mengajar, sambil menjelaskan materi kemudian menyisipkan pilihan-pilihan politik bahkan sikap politik pribadinya terkait calon presiden atau komentar terkait aksi terorisme yang terjadi bahwa ini adalah pengalihan isu atau mendukung konsep negara khilafah, bahkan bersimpati terhadap ISIS,” ujar Heru, dalam keterangan yang diterima MONITOR.

Selain itu, Heru mengatakan faktor lengahnya pengawasan sekolah yang cenderung tidak memperhatikan secara khusus dan ketat perihal kegiatan kesiswaan, apalagi terkait keagamaan. Ditambah intervensi alumni dan pemateri yang diambil dari luar sekolah tanpa screening oleh guru atau kepala sekolah.

“Masuknya pemikiran yang membahayakan kebhinekaan ini bisa dari alumni melalui organisasi sekolah atau ekstrakurikuler, pemateri kegiatan kesiswaan yang bersifat rutin seperti mentoring dan kajian terbatas,” tukasnya.

Jamkrindo-Jaminan Kredit Indonesia