Dibutuhkan Sinergi antar Kementerian dalam Menghadapi Revolusi Industri 4.0

MONITOR, Jakarta – Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo beberapa waktu yang lalu telah meluncurkan program Making Indonesia 4.0 dan menetapkannya sebagai agenda nasional. Program ini sebagai peta jalan dan langkah strategi Indonesia dalam implementasi memasuki era revolusi industri 4.0. Untuk mewujudkannya, program ini melibatkan seluruh pemangku kepentingan baik kementerian/lembaga, pelaku ekonomi dan industri hingga akademisi. 

Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) menggelar Rapat Koordinasi Implementasi Program Making Indonesia 4.0 di Gedung Kemenristekdikti, Senayan, Jakarta. 

Rapat koordinasi ini melibatkan Menteri serta Pejabat Eselon I dan II dari 10 Kementerian dan Lembaga Negara antara lain Menteri Perindustrian (Menperin) Airlangga Hartarto, Gubernur Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas) Agus Widjojo dan tamu undangan lainnya.

Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohamad Nasir mengatakan sinergi antar kementerian merupakan hal penting dalam menghadapi revolusi industri 4.0. 

"Disini pentingnya sinergi antar kementerian dan segala pihak, tidak seperti selama ini berjalan sendiri-sendiri," ungkap Nasir, Jakarta, Kamis (12/4).

Nasir mengungkapkan Indonesia harus memanfaatkan peluang di era perubahan yang mengedepankan digitalisasi ini. 

"Era revolusi industri 4.0 ini harus dimanfaatkan. Jika tidak Indonesia akan tertinggal," tuturnya.

Nasir berharap program Making Indonesia 4.0 memiliki tujuan yang akan dicapai seperti meningkatkan ekspor, meningkatkan investasi dan mengurangi kemiskinan yang berujung pada peningkatan kesejahteraan rakyat meningkat.

Pada kesempatan yang sama, Menteri Perindustrian (Menperin) Airlangga Hartarto mengatakan bahwa semua pihak baik pihak swasta, pelaku ekonomi dan pemerintah harus ikut serta melakukan perubahan ke depan dalam menghadapi digitalisasi. 

“Kesiapan SDM juga menjadi utama, ada 1000 peserta yang nanti akan di training. Menristekdikti dan Gubernur Lemhanas telah membuat kurikulum dan programnya," tutur Airlangga.

Diharapkan kegiatan Making Indonesia 4.0 dapat meningkatkan produktivitas dan inovasi kedepannya. Untuk penerapan awal program ini dimana Kementerian Perindustrian menjadi 'steering committe' telah disepakati lima sektor industri yang menjadi fokus implementasi yaitu makanan dan minuman, tekstil, otomotif, elektronika dan kimia. 

"Kelima sektor itu yang akan dipacu untuk mendorong perekonomian dengan aspirasi di tahun 2030 Indonesia menjadi ekonomi terbesar 10 di dunia," kata Airlangga.

Hal serupa juga diungkapkan Gubernur Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas) Agus Widjojo, ia mengatakan Lemhannas sebagai fasilitator akan memberikan pembekalan dan pelatihan untuk menyebarluaskan materi yang telah disusun Lemhannas bersama Menristekdikti. 

“Lemhanas menjadi fasilitator, bertugas untuk training trainers, menyebarluaskan dari materi-materi yang nanti kita bekalkan. Ini merupakan revolusi mental, karena menyentuh dan memasuki segala lembaga, kementerian dan non-kementerian, kita harapkan seluruh mindset yang akan berpengaruh dalam organisasi apapun, dimulai dari sektor industri," ucapnya.

Dalam Implementasi Program Making Indoesia 4.0, langkah awal yang dilakukan pemerintah adalah dengan melakukan pembekalan dan pelatihan kepada 1000 peserta dari berbagai pihak baik pemerintah maupun swasta seperti Kementerian/Lembaga, TNI/Polri, serta LSM. Untuk Training of Trainers (TOT) nya sendiri sebanyak 80 orang diharapkan bisa dilaunching diakhir April. Sementara pembekalan dan pelatihan diagendakan bisa dilaksanakan pada awal Juni.