Daoed Joesoef dan Kebijakan Kontroversialnya di Dunia Pendidikan

MONITOR, Jakarta – Bangsa Indonesia kembali berduka cita. Adalah Daoed Joesoef, sosok legendaris yang pernah menjabat sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) RI di era Presiden Soeharto, meninggal dunia.

Daoed menghembuskan nafas terakhir pada Selasa (23/1) malam sekitar pukul 23.15 WIB di Rumah Sakit Medistra, Jakarta Selatan. Menurut informasi yang beredar, jenazah almarhum akan dimakamkan di Pemakaman Giri Tama, Bogor, Jawa Barat.

Rasa kehilangan mendalam sangat dirasakan sejumlah tokoh negeri ini. Sebut saja Wakil Presiden RI Jusuf Kalla, hingga Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan. Keduanya menyempatkan diri berkunjung ke rumah duka, untuk menyalami pihak keluarga Daoed dan menyampaikan ucapan berdukacita.

Mengenal Daoed Joesoef

Generasi era milenial harus tahu, sosok legendaris ini merupakan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan dari tahun 1978 hingga 1983 dalam Kabinet Pembangunan III. 

Putra asli Medan, Sumatera Selatan, ini terlahir dari pasangan Moehammad Joesoef dan Siti Jasiah, pada 8 Agustus 1926 silam. Ia kemudian menikah dengan Sri Sulastri dan dikaruniai anak bernama Sri Sulaksmi Damayanti.

Di masa kolonial, Daoed berhasil menamatkan studi cukup memuaskan. Ia menyabet gelar sarjana ekonomi dari Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia pada tahun 1959. Kemudian ia melanjutkan studinya di Sorbonne, Perancis dan meraih dua gelar doktor, yakni Ilmu Keuangan Internasional dan Hubungan Internasional (1967) serta Ilmu Ekonomi (1973). 

Aktivitas di dunia akademis terus berlanjut, Daoed ikut serta mendirikan sebuah wadah khusus pemikiran yaitu CSIS (Centre for Strategic and International Studies), lembaga ini kala itu sering dimanfaatkan oleh pemerintahan Orde Baru.

Menteri yang Cukup Tegas

Selama menjabat sebagai Mendikbud era Soeharto, Daoed banyak menelurkan kebijakan-kebijakan yang cukup berani. Salah satunya adalah kebijakan memperkenalkan NKK/BKK (Normalisasi Kehidupan Kampus/Badan Koordinasi Kemahasiswaan).

Kebijakan ini dicetuskannya, tak lain untuk membersihkan kampus dari kegiatan-kegiatan bernuansa berpolitik. Kala itu, dengan tegas Daoed menyatakan kegiatan politik hanya boleh dilakukan di luar kampus, sementara tugas utama mahasiswa adalah belajar. 

Melalui kebijakannya ini, ia menghapuskan Dewan Mahasiswa di universitas-universitas di seluruh Indonesia dan serta melumpuhkan kegiatan politik mahasiswa.

Selain larangan berpolitik di kampus, ia juga cukup fenomenal karena pernah mengeluarkan keputusan yang melarang liburan pada masa bulan puasa.

Hingga di usianya ke 87 tahun, Daoed masih terlihat bugar dan tak seperti kebanyakan orang pada umumnya. Ia sangat produktif menulis, ceramah hingga melukis. Semakin menua, pikiran dia semakin tajam dan jernih serta memberikan pencerahan ke banyak orang. 

Selamat Jalan Daoed Joesoef…!