Besok, Alumni 212 Bakal Gelar Aksi untuk Muslim Rohingya

MONITOR, Jakarta – Tragedi kemanusiaan yang menimpa kaum muslim Rohingya, dianggap sudah melampui batas dan bentuk kebiadaban pemerintah Myanmar.

Untuk itu, Presidium Alumni 212, bakal menggelar aksi peduli Rohingya dengan melibatkan beberapa ormas serta peserta aksi dari unsur lintas agama.

Hal ini diungkapkan salah satu korlap aksi, Kapitra Ampera melalui siaran persnya, Senin (5/9) di Jakarta.

"Insya allah kita bersama 2 juta orang dari lintas agama, akan melakukan aksi selamatkan muslim Rohingya di Bundaraan HI dan Kedubes Myanmar Rabu besok," ujar Kapitra.

Dijelaskannya,dalam aksi tersebut, pihaknya mengajukan beberapa tuntuntan, diantaranya adalah, mengusir Dubes Myanmar dari Indonesia.

"Intinya Pemerintah Jokowi-JK, harus menghentikan hubungan diplomasi dengan Myanmar. Pembiaran atas tindakan biadab itu tidak bisa kita terima. Indonesia harus berani mengambil tindakan tegas, embargo Myanmar," tegasnya.

Menurutnya, Pemerintah Myanmar dengan terang-terangan melakukan pemusnahan etnik Rohingya. Genosida di depan miliaran mata manusia dunia  kata dia, adalah perbuatan yang melanggar universal declaration of human right pada 10 Desember 1948 di Paris.

"Dengan demikian, kepala pemerintah Myanmar bisa diseret ke Mahkamah Internasional," ungkapnya.

Lebih lanjut dia mengatakan, pihaknya juga meminta Pemerintah Indonesia untuk mengirim pasukan Garuda ke Myanmar. 

"Kita tabuh genderang perang. Jika mereka tidak berhenti, kirim pasukan Garuda ke sana," tegasnya.

Pihaknya juga meminta pemerintah Indonesia bersikap tegas atas tragedi 'genosida' Rohingya di Myanmar. Dirinya juga mengimbau kepada umat muslim untuk mendukung aksi unjuk rasa dengan tuntutan mengusir Dubes Myanmar. Sebab, menurut dia, Myanmar telah melakukan tindakan keji, yakni genosida terhadap muslim Rohingya.

"Meminta umat Islam untuk mendukung aksi turun ke jalan mengusir duta besar Myanmar dari Indonesia. Kita kumpul di Bundaran HI jam 13.00 WIB," terangnya.

Lebih dari itu, pihaknya juga mengutuk keras perlakuan biadab pemerintah Myanmar terhadap etnis muslim Rohingnya. Karenanya, guna menghentikan tindakan diskriminatif dan perbuatan keji terhadap muslim Rohingya, pihaknya juga menyerukan kepada ASEAN untuk melakukan tindakan tegas dan memberikan sanksi berat kepada pemerintah Myanmar.

Bahkan, Alumni 212 juga meminta kepada Komisi HAM PBB untuk mengeluarkan resolusi terkait pelanggaran HAM berat yang dilakukan oleh pemerintahan Aung San Suu Kyi. Termasuk juga menuntut PBB melakukan embargo kepada rezim Aung San Suu Kyi.

"Kami juga meminta kepada komisi nobel perdamaian PBB untuk mencabut hadiah nobel yang diterima oleh Aung San Suu Kyi pada tahun 2012," ujarnya.

"Kami mengimbau kepada seluruh komponen masyarakat, khususnya umat Islam untuk melakukan aksi penggalangan dana guna membantu meringankan penderitaan umat Islam Rohingnya," pungkasnya.⁠⁠⁠⁠