MONITOR, Jakarta – Citarum hingga kini dikenal sebagai salah satu sungai terpenting di Indonesia. Sungai ini memiliki predikat sebagai sungai terpanjang dan terbesar di Tatar Pasundan. Jutaan orang mengandalkan Sungai Citarum untuk memenuhi hajat hidupnya.

Sungai yang mengaliri 12 wilayah administrasi kabupaten/kota ini memiliki peranan penting dalam hajat keberlangsungan hidup manusia. Aliran Citarum menjadi sumber pasokan air minum bagi masyarakat di Jakarta, Bekasi, Karawang, Purwakarta, dan Bandung.

Tak kurang dari 420.000 hektar, wilayah pertanian di Jawa Barat juga bergantung pada sungai tersebut. Selain itu, potensi sebesar 20% GDP (Gross Domestic Product) terkandung di sepanjang aliran Sungai Citarum. Namun ironisnya, Citarum pada 2007 sempat dinobatkan sebagai sungai paling tercemar.

Menyikapi hal ini, Pemerintah menggagas program Citarum Harum. Sebuah langkah untuk mengembalikan kondisi Citarum menjadi sungai yang bersih dan terbebas dari berbagai pencemaran. Presiden turun langsung dan mencanangkan bahwa dalam tujuh tahun, Citarum harus bersih, bersemi, dan kembali harum.

Dalam upaya menyukseskan program nasional tersebut, SDID (Sumber Daya IPTEK dan Dikti) Kemenristekdikti bersama Bitread Publishing menggelar kompetisi menulis bertajuk Writingthon Dikti dengan mengangkat tema “Indonesia untuk Citarum Harum”. Kompetisi ini ditujukan bagi peserta dari tiga latar belakang yang berbeda, yakni mahasiswa, dosen dan tenaga pengajar di lingkungan pendidikan tinggi, serta peneliti.

Menteri Ristekdikti, Mohamad Nasir, menerangkan tentang urgensi stakeholder dan komponen perguruan tinggi dalam menghadapi permasalahan masyarakat.

“Perguruan tinggi haruslah peka terhadap tantangan yang dihadapi oleh masyarakat, karena dengan kepekaan itulah perguruan tinggi dapat secara cepat memberikan rekomendasi serta solusi untuk menjawab segala permasalahan,” ujar Menteri Nasir, kala pelaksanaan Hardiknas 2018 kemarin.

Kompetisi menulis ini terbilang unik, sebab memiliki konsep yang berbeda dengan kompetisi pada umumnya.

“Kompetisi ini terinspirasi dari Hackhaton. Jika dalam Hackaton para peserta berlomba untuk membuat sebuah aplikasi atau meretas sebuah perangkat lunak, maka pada Writingthon, peserta secara maraton bersama-sama membuat sebuah naskah buku,” tutur Founder Bitread, Anita Hairunnisa.

Kompetisi terbagi dalam tiga fase, yakni fase seleksi (kompetisi), pengumuman hasil seleksi, dan karantina Writingthon. Kompetisi dibuka pada 2 Mei 2018, bertepatan dengan Hari Pendidikan Nasional. Pada fase ini, para peserta mulai mengirimkan tulisan dari sub tema yang ditentukan, yakni lingkungan/sosial ekonomi (mahasiswa), humaniora (dosen dan tenaga pengajar), dan kesehatan/teknologi (peneliti).

Pengiriman karya tulis ditutup pada 30 Mei 2018. Hasil seleksi akan diumumkan pada 11 Juni 2018. Fase berikutnya ialah karantina Writingthon yang dilaksanakan pada 28-30 Juni 2018 di Jakarta. Para pemenang akan diundang mengikuti Writingthon untuk menghimpun tulisan mereka dan mengemasnya menjadi sebuah buku sebagai karya kolektif.

Selama tiga hari, para pemenang akan meramu kembali naskah yang mereka kirimkan demi menyusun sebuah buku berjudul Indonesia untuk Citarum Harum. Rencananya, buku ini akan diterbitkan dan diluncurkan pada 10 Agustus 2018 di Riau dalam momentum Hakteknas.

Pada Puncak Peringatan Hari Pendidikan Nasional, Mohamad Nasir juga menyampaikan bahwa “Kemenristekdikti mendukung program nasional untuk mewujudkan Citarum Harum.” Maka, seiring dengan peran tersebut, kompetisi dan penerbitan buku Indonesia untuk Citarum Harum dapat menjadi salah satu sarana untuk menguatkan kampanye program Citarum Harum.

Melalui gelaran Writingthon Dikti, diharapkan seluruh kalangan pendidikan tinggi, dapat berkontribusi sebagai bentuk dari salah satu Tri Dharma Perguruan Tinggi kepada masyarakat luas dengan memberikan berbagai gagasan maupun motivasi untuk mewujudkan Citarum Harum.