FSGI Minta Kemendikbud Evaluasi Pelaksanan Sistem UNBK

MONITOR, Jakarta – Terobosan pemerintah untuk membuat UNBK hingga tahun ketiga patut diapresiasi. Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) menilai UNBK telah memutus rantai perjalanan soal yang rumit, dan hampir menghapus masalah klasik kebocoran soal dan kunci jawaban.

Selain itu, adanya sistem UNBK dirasa mampu menaikkan gengsi pendidikan Indonesia dengan pemanfaatan IT yang cukup masif.

Akan tetapi, dalam tiga tahun pelaksanaan UNBK tidak menunjukkan peningkatan pelaksanaan yang semakin baik, justru banyak kendala serius yang ditanggapi enteng.

“Kemendikbud cenderung merespon di area medsos dan bahkan menanggapinya dengan mengancam siswa pembocor soal yang tidak jelas sumber kebocorannya . Banyak hal prinsip yang harus dievaluasi karena seolah-olah UNBK ini menemui anomali namun jawaban Kemendikbud justru blunder,” kata Satriwan Salim, Wakil Sekjen Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI).

Kekhawatiran siswa SMP terkait UNBK SMA yang menggunakan soal HOTS, sebagaimana yang dicurahkan di IG-nya Kemdikbud, benar-benar menjadi kenyataan. Pada hari kedua pelaksanaan UNBK SMP, banyak siswa yang mengeluhkan sulitnya soal Matematika untuk diselesaikan.

“Berdasarkan analisis kami dan laporan dari guru-guru daerah telah terjadi pemahaman yang salah pembuat soal terhadap konsep HOTS itu sendiri. Soal Matematika yang diujikan untuk siswa SMP sebenarnya bukan lagi aplikasi HOTS tetapi sudah menjadi soal dengan tingkat KI dan KD yang lebih dalam dibandingkan KI dan KD yang ada pada mata pelajaran Matematika tingkat SMP. Lebih sesuai jika soal Matematika ini diujikan untuk siswa SMA. Memang KI dan KD antara SMP dan SMA beririsan tetapi pada tingkatan SMA lebih dalam dibandingkan SMP sesuai dengan SKL-nya,” ujarnya.

Satriawan mengaku menyesalkan pernyataan Mendikbud yang menganggap enteng keluhan siswa. Ia mempertanyakan, untuk menyelesaikan soal-soal yang berbasis HOTS, perlu pembelajaran dan siswa perlu dilatih.

“Lalu kapan siswa dilatih untuk berpikir secara HOTS? Kan belum. Jadi kami sepakat kalau ada pernyataan telah terjadi malpraktek di dunia pendidikan Indonesia,” ujarnya lebih lanjut.

Tak berhenti sampai disitu soal mata pelajaran Bahasa Inggris yang diujikan pada hari ketiga juga banyak dikeluhkan siswa.

“Banyak siswa yang mengeluhkan bahwa pokok soal pada mata pelajaran Bahasa Inggris terlalu panjang uraiannya. Dengan jumlah soal 40 buah dan waktu 120 menit, jika dirata-ratakan ada waktu 3 menit untuk 1 soalnya, waktu yang sedikit untuk menyelesaikannya. Apalagi pokok soalnya membutuhkan penalaran yang dalam. Kalaulah Kemdikbud berdalih bahwa soal-soal UNBK disesuaikan dengan standar internasional, menjadi aneh kenapa evaluasinya saja yang berstandar internasional? Lalu bagaimana dengan sarana prasarana, kualitas guru, kurikulumnya dan pembelajarannya. Apakah sudah berstandar internasional?” tanya Heru Purnomo, Sekretaris Jenderal FSGI

Heru pun mengingatkan, ”Sekolah itu bukan hanya ujian. Bukan hanya evaluasi. Tetapi merupakan proses mulai dari perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi. Kalau prosesnya masih standar nasional, pembelajarannya juga masih standar nasional, mengapa evaluasinya harus dipaksakan berstandar internasional?”

“FSGI meminta Mendikbud melakukan evaluasi menyeluruh terhadap pelaksanaan UNBK, baik secara personal, kelembagaan, teknologi sampai dengan konten yang diujikan. Agar peristiwa yang sama tidak terulang lagi untuk tahun-tahun berikutnya. Kami juga mempertanyakan peran dan fungsi yang dimainkan oleh Puspendik Kemdikbud, mengapa soal-soal UNBK tahun ini begitu kacau. Tidak bersesuaian dengan apa yang diajarkan dan apa yang diperoleh oleh siswa di sekolah,” ujar Fahriza Marta Tanjung, Wakil Sekjen FSGI.