Potret Suram Pendidikan di Maros

MONITOR, Maros – Potret pendidikan di Indonesia masih memprihatinkan jika ditinjau secara keseluruhan. Di beberapa daerah, masih ada sekolah yang belum mampu menghadirkan kelayakan dan fasilitas yang memadai bagi siswanya.

Misalnya di Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. Tepatnya di Desa Bonto Matinggi, Kecamatan Tompo Bulu, puluhan anak harus berjuang menyebrangi sungai dengan arus yang cukup deras untuk berangkat dan pulang sekolah setiap harinya.

Potret Suram Pendidikan di Maros

Bayangkan jika memasuki musim hujan, air sungai naik dan arusnya juga semakin deras, sehingga membahayakan jiwa anak-anak yang menyebrang untuk bersekolah. Kondisi ini tak luput dari pemantauan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI).

Mengetahui kabar yang tersiar, KPAI kemudian melakukan koordinasi dengan Elvi Hendrani, Asisten Deputi Bidang Pendidikan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPA). Kedua instansi ini kemudian menurunkan lima orang untuk meninjau lokasi.

Dari hasil pemantauan, sejumlah fakta ditemukan. Pertama, jumlah anak yang setiap hari menyeberang sungai untuk bersekolah mencapai lebih dari 30 anak, terdiri dari siswa SD dan SMP.

“SD terdekat adalah SDN 30 Inpres Gantarang, Desa Bonto Matinggi, Kecamatan Tompo Bulu yang berjarak sekitar 3 kilometer dari pinggir sungai. Gedung SD negeri ini juga cukup memprihatinkan, ada 2 ruang kelas yang rusak, namun tak kunjung mendapat bantuan perbaikan, padahal sudah cukup lama rusaknya,” terang Retno Listyarti kepada MONITOR.

Kekhawatiran pun bertambah, manakala anak-anak meluapkan rasa takutnya setiap kali hendak menyeberang sungai. Apalagi jika air sedang tinggi dan arus cukup deras, mereka harus naik ban yang diatasnya diberi papan dan duduk diatas papan, kemudian ban akan ditarik oleh anak lain di seberang sungai.

“Ketika air agak surut, anak-anak tersebut bisa menyebrangi pinggiran bendungan di sungai tersebut yang lebarnya sekitar 40 cm dan panjang 130 meter. Anak-anak mengatakan bahwa saat menyebrang dengan sisi pinggir bendungan tersebut arusnya terasa cukup deras dan butuh keseimbangan badan,” cerita Retno.

Tak hanya anak-anak yang merasakannya, orangtua yang mengantarkan anaknya juga pernah mengalami hal demikian. Diceritakan Retno, ada orangtua siswa yang mengaku pernah terjatuh saat menyeberang dengan menggunakan pinggir bendungan dan terbawa aus.

“Padahal sungainya peuh dengan batu-batu. Karena, anak-anak yang masih SD rata-rata diantar ibunya saat ke sekolah, sebab sang ibu khawatir keselamatan anak-anaknya saat menyebarang sungai tersebut,” ungkapnya.

Kedua, di lokasi tersebut ditemukan pondasi jembatan di kedua sisi  sungai. Namun ternyata pondasi itu dibangun sejak 2015 dan tidak dilanjutkan lagi hingga 2018. sehingga pembangunan jembatan penyebarangan memang tidak rampung pembangunannya hingga sekarang.

Ketiga, berdasarkan pengakuan pemerintah kabupaten, pihak desa tidak pernah melaporkan permasalahan pembangunan jembatan yang belum rampung tersebut.

“Sehingga pemda juga tidak mengetahui bahwa ada anak-anak sekolah yang harus bertaruh keselamatan saat berangkat ke sekolah setiap harinya,” imbuh Retno.