Mahfud MD : Saya dkk sudah berusaha, tapi Tuhan jua yang menentukan

Rapat Jokowi dan Koalisi Partai Pendukung saat menentukan Calon Wakil Presiden, Kamis (9/8/2018)

MONITOR, Jakarta – Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK), Mahfud MD gagal menjadi calon wakil presiden (cawapres) Jokowi di Pilpres 2019 pada detik-detik akhir pengumuman, Kamis malam (9/8/2018).

Jokowi dan Koalisi Partai Pendukung lebih memilih Ketua MUI dan Rais Aam PBNU, KH. Ma’ruf Amin yang sebelumnya juga banyak disebut sebagai salah satu kandidat cawapres.

Melalui akun twitter pribadinya @mohmahfudmd, Mahfud MD memberikan pernyataan secara resmi. Mahfud mengaku dirinya tidak kecewa dengan keputusan tersebut namun juga kaget karena perubahan keputusan yang begitu cepat di detik-detik akhir.

Berikut Pernyataan Mahfud MD :

(Pilpres 1):
Sy minta maaf dan berterimakasih kpd masyarakat yang mengirim pesan/pertanyaan dan simpati kpd sy terkait keputusan Pak Jkw memilih KH Makroef Amin sbg cawapresnya. Ada ribuan WA, SMS, Twitter, dll. Sy minta maaf krn sy hanya bs membaca tanpa bs menjawab 1 persatu

(Pilpres 2)
Keputusan Pak Jkw itu adl realitas politik yg tak terhindarkan. Meski kaget saya tidak kecewa. Sy sdh bertemu berdua dgn Pak Jkw. Sy memaklumi pilihan itu sulit dihindarkan. Sy bilang, Pak Jkw tak perlu metass bersalah. Itu hak beliau utk memutuskan yg terbaik.

(Pilpres 3)
Bagi kita yang terpenting NKRI ini terawat dgn baik. Keberlangsungan NKRI jauh lbh penting daripada sekedar nama Mahfud MD dan Makroef Amin. Scr agama, sy dkk sdh berusaha tapi Tuhan jua yg menentukan. Tidak ada daya atau hal yg bs diberdayakan tanpa izin Allah.

(Pilpres 4)
Yang sudah diputuskan oleh Pak Jkw sdh sesuai dgn hak dan mekanisme konstitusional. Kita hrs terima itu sbg kesadaran konstitusional kita. Alangkah ngeri hidup bernegara kalau kita tak punya kesadaran berkonstitusi dan berhukum! Itu yg hrs ditekankan utk merawat NKRI.

(Pilpres 5)
Mari kita terus dgn rumah NKRI. NKRI adalah anugerah Tuhan Yang Maha Kuasa kepada kita bangsa Indonesia. Ikuti trs pros2 konstitusional yg berlaku.