Konstelasi Pilpres Diharapkan Tidak Ganggu Asian Games

Bendera Negara Peserta Asian Games yang dipasang menggunakan tiang dari bambu di Pluit, Jakarta Utara (foto : twitter)

MONITOR, Jakarta – Menjelang pelaksanaan Asian Games 2018 di dua Kota di Indonesia, Jakarta dan Palembang, elit politik masih disibukkan oleh konstelasi pemilihan Capres dan Cawapres untuk Pilpres 2019.

Padahal, tenggat waktu pelaksanaan Asian Games tinggal 14 hari lagi. Even empat tahunan ini harus semarak mengingat Indonesia telah mengeluarkan sumber daya terbaiknya.

Menurut politisi PSI, Andi Anggana, konstelasi penjaringan atau pencarian Capres dan Cawapres jangan sampai mengorbankan fokus terhadap even besar Asian Games 2018.

“Memang momentumnya mendekati. Tanggal 4 buka pendaftaran capres cawapres. Itu 14 hari jelang Asian Games. Penentuan siapa yang di usung penting, tapi ini ada gawean besar, harus juga diperhatikan,” tutur lulusan FISIP UIN Jakarta ini.

Pelaksanaan dan branding Asian Games, kata Andi, harus diutamakan demi nama besar Indonesia di mata dunia. “Nah, karena ada pendaftaran capres cawapres, kita dorong, harus sama-sama dewasa. Membuat iklim yang kondusif. Jangan ada gesekan dan saling ejek, biar apa? Biar semuanya baik-baik saja,” katanya menambahkan.

Terlebih politisi yang aktif di isu kebijakan publik ini menekankan ajang kontestasi itu juga harus dimanfaatkan membuat dua pendukung menyukseskan Asian Games.

Ia juga mengimbau untuk kedua kubu yang mempunyai pilihan berbeda agar mampu saling mengharmoniskan situasi dan iklim kondusif di dunia maya. “Mari kita lakukan upaya-upaya kampanye terkait Asian Games dulu. Tahan dulu yang berbau politik praktis, bukan tidak boleh. Apa salahnya kita meningkatkan euforia Asian Games. Ini penting karena even internasional,” katanya mengimbau.

Politisi yang juga pegiat media ini juga yakin jika dua kubu yang selama ini bersinggungan di dunia maya bisa kompak demi nama besar Indonesia di pentas dunia.

“Ini saatnya mari kita gelorakan Asian Games 2018. Semuanya harus bersatu, di dunia maya atau pun dunia nyata. Karena pilihan bisa beda di level politik nasional, tapi jika menyangkut pentas dunia, kita satu, yakni Indonesia,” katanya mengakhiri.