Mahasiswa UGM Ciptakan Alat Penerjemah Bahasa Isyarat

Mahasiswa UGM, Nindi Kusuma Ningrum, ketua tim bersama dengan dua mahasiswa lainnya Faturahman Yudanto dan Lely Monalisa

MONITOR, Jakarta – Mahasiswa UGM berhasil menciptakan sarung tangan yang dapat menerjemahkan bahasa isyarat. Dengan alat ini, para penyandang tuna rungu dan tuna wicara dapat lebih mudah berkomunikasi dengan orang-orang di sekitar mereka.

Prototipe bernama ‘Signly’ ini memiliki katalog yang diambil dari American Sign Language, Bahasa Isyarat Indonesia (Bisindo), dan masukan-masukan baru menggunakan kombinasi lima jari tangan kanan.

Nindi Kusuma Ningrum, ketua tim bersama dengan dua mahasiswa lainnya Faturahman Yudanto dan Lely Monalisa di bawah bimbingan Anugerah Galang Persada, menjelaskan bahwa perangkat ini bisa menerjemahkan bahasa isyarat secara langsung menjadi bahasa verbal.

Cara kerja sarung tangan ini adalah terkoneksi dengan smartphone dan komputer yang akan menampilkan informasi dari sarung tangan yang menggunakan flek sensor untuk mendeteksi gerakan dan posisi jari tangan tersebut.

Jawaban bahasa sehari-hari dari lawan bicara kemudian dikonversikan ke dalam bentuk verbal tulis yang dapat dibaca oleh difabel di layar komputer atau smartphone.

“Pengembangan prototipe terus dilakukan, termasuk menambahkan fungsi alat supaya mampu menerjemahkan bahasa isyarat langsung ke verbal suara. Berkat inovasi ini, Signly telah mendapat dana hibah dari DIKTI,” pungkas Faturahman.