Tahun 2019, Rasio Elektrifikasi Nasional Ditargetkan Lebih dari 97 Persen

MONITOR, Jakarta – Dalam menyediakan listrik untuk Indonesia, hingga saat ini rasio elektrifikasi Indonesia sudah mencapai 93,08%. Hal ini diungkapkan Wakil Menteri ESDM Arcandra Tahar.

"Memang masih ada provinsi dengan rasio elektrifikasi rendah seperti NTT dan Papua. Tetapi kedepan hingga tahun 2019, ditargetkan rasio elektrifikasi nasional kita tingkatkan hingga lebih dari 97 persen," ujarnya kepada wartawan, Senin (23/10).

Upaya yang dilakukan melalui Peraturan Menteri ESDM nomor 38 tahun 2016 yaitu percepatan elektrifikasi perdesaan dengan penyediaan listrik hingga 50 MW bagi perdesaan belum berkembang, terpencil, perbatasan dan pulau kecil berpenduduk.

Arcandra menambahkan, upaya lainnya adalah program pra elektrifikasi melalui penyediaan lampu tenaga surya hemat energi (LTSHE) yang pada tahun 2017 ditargetkan bagi 80 ribu lebih rumah tangga, dan tahun 2018 sebanyak 175 ribu lebih rumah tangga.

Program pembagian LTSHE difokuskan bagi desa belum berlistrik yang jumlahnya sekitar 2500 desa. Kapasitas pembangkit listrik Indonesia saat ini sekitar 60 ribu MW. Kapasitas tersebut telah mengalami peningkatan sekitar 7 ribu MW dari kapasitas tahun 2014 sebesar 53 ribu MW.

Program pro pemerataan dan pengentasan kemiskinan sektor ESDM lainnya adalah pemboran sumur untuk penyediaan air bersih bagi masyarakat sulit air. Pada periode 2005-2016 telah dilakukan pemboran sumur sebanyak 1.545 sumur bor yang telah menyediakan air bersih bagi 4,4 juta jiwa.

"Target tahun 2017 ini sebanyak 250 sumur bor yang akan kita selesaikan. Hingga saat ini capaiannya sekitar 47,8 persen," pungkas Arcandra.

Selain program-program tersebut, Wamen Arcandra juga menyampaikan kinerja terkait peningkatan konsumsi listrik per kapita menjadi 994 kWh per kapita, porsi BBM yang menurun dalam bauran energi mix pembangkit hinga 6,1%, subisidi listrik, susut jaringan, subsidi BBM dan LPG.