Rupiah Merosot, Pemerintah Diminta Segera Ambil Langkah Preventif

MONITOR, Jakarta – Anggota Komisi XI DPR RI Heri Gunawan mengingatkan agar pemerintah tidak hanya sekedar melakukan pembelaan atas nilai tukar rupiah yang melemah terhadap dollar sebagai bentuk dampak global.

Sebab, sambung dia, bila melemahnya rupiah yang diprediksi akan terus melorot akan sangat mengganggu pertumbuhan ekonomi, terutama pada sektor riil.

"Jika pemerintah tidak segera melakukan tindakan preventif, walaupun sebagian mengatakan indikasinya karena faktor global, maka pelemahan rupiah tersebut akan menjalar ke sektor riil," kata Heri dalam keterangan tertulisnya yang diterima MONITOR, Kamis (8/3).

"Yakni, harga-harga kebutuhan pokok bisa melambung, lebih-lebih beberapa kebutuhan dasar kita masih tergantung pada impor seperti, beras," tambahnya.

Masih dikatakan dia, tindakan preventif pemerintah dan BI musti segera dilakukan untuk menjaga psikologi pasar. Lebih-lebih, pergerakan harga minyak mentah dunia naik cukup tinggi selama tiga bulan terakhir. 

Sehingga, sambung Heri, pada konteks ini pemerintah akan dihadapkan pada keputusan yang cukup sulit. 

"Jika diintervensi dengan cadangan devisa yang ada, maka konsekuensinya cadangan devisa akan terkuras. Cadangan devisa Indonesia tak terlalu besar untuk terus menerus mengintervensi melemahnya nilai tukar rupiah," papar politikus Gerindra itu. 

Dikatakannya, kondisi ini pernah terjadi di November 2016 saat tekanan The Fed naik, sehingga membuat cadangan devisa turun hingga USD4 miliar dollar. 

"Belum lagi utang luar negeri pemerintah dan swasta dalam dollar AS akan jatuh tempo akhir tahun ini diprediksi akan membengkak," sebut dia.

"Melihat tren rupiah saat ini, maka ancaman anjloknya rupiah sebagaimana yang terjadi pada tahun 2015 bisa saja  terjadi. Rupiah baru saja terpuruk hingga menyentuh level Rp13.800 per dollar AS, dan itu adalah angka paling anjlok sejak 1998," pungkasnya.