Potensi Ekspor Cabai dari Perbatasan Kalbar

Perkebunan Cabai di Kalimantan Barat (Foto: Humas Kementan)

MONITOR, Jakarta – Kalimantan Barat adalah salah satu provinsi di Indonesia yang berbatasan darat dengan Serawak – Malaysia. Posisinya sangat strategis karena sangat dekat dengan salah satu pintu perbatasan yaitu Entikong. Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman telah mencanangkan Propinsi Kalimantan Barat sebagai salah satu kawasan lumbung pangan nasional di perbatasan, dengan sentra utamanya Kabupaten Sanggau, Sintang Sambas, Kapuas Hulu dan Bengkayang.

“Kemudahan akses perdagangan antara Kalbar dan Sarawak Malaysia dapat dimanfaatkan untuk melakukan ekspor berbagai komoditas pertanian” ungkap Tatang Sihabudin, Kepala Balai Penyuluhan Kecamatan Entikong saat bersama kasubdit Aneka Cabai, Ditjen Hortikultura dan Kepala Bidang Hortikultura Dinas Pertanian Provinsi Kalbar pada hari Jum’at 19/7.

Menurut Tatang, jenis sayuran yang banyak diminati penduduk Sarawak antara lain cabe rawit, terung, sawi, dan labu. “Petani membutuhkan bimbingan terkait tata cara budidaya dan penanganan pasca panen yang sesuai permintaan pasar” tambah Tatang.

Mardiyah menuturkan bahwa kebutuhan cabe di Kalbar masih dipasok dari Jawa Tengah, terutama pada musim kemarau, sebagai contoh cabe rawit banyak dipasok dari Jawa Tengah dan dipasarkan di Pasar Sentral Flamboyan, Pontianak. “Mulai Agustus diharapkan petani sudah mulai banyak menanam aneka sayuran sehingga kebutuhan menjelang perayaan natal dapat dipenuhi dari petani lokal’ tambah Mardiyah

Menurut penjelasan Direktur Sayuran dan Tanaman Obat, Prihasto “Pemerintah telah mengalokasikan dana APBN tahun 2018 sebesar Rp. 4,5 milyar untuk pengembangan cabe rawit di 10 kabupaten”.

“Diharapkan kebutuhan cabe untuk masyarakat bisa dipenuhi dari produksi lokal dan selebihnya dapat dijual ke negara tetangga” tambah Prihasto.

Sementara Kepala Bidang Hortikultura-Dinas Pertanian Provinsi Kalimantan Barat, Endang Kusumayanti, menyatakan kesiapan daerahnya untuk memperluas areal tanam cabai sekaligus mendorong realisasi ekspornya. “Kami siap mewujudkan lumbung pangan dunia dari perbatasan, sebagaimana arahan Menteri Pertanian” ujar Endang.

Selain beras dan buah-buahan kami akan ekspor cabai melalui Entikong ke Sarawak”, tuturnya. “Tahun 2017 lalu, produksi cabai di Kalbar mencapai 1.665 ton untuk cabe besar dan 4.719 ton untuk cabe rawit dengan luas panen total mencapai seribu hektar. Dengan jumlah penduduk Kalbar 5 Juta jiwa dan konsumsi per kapta cabai rata-rata setahun 1,6 kg/kapita, maka kebutuhan cabe untuk konsumsi masyarakat Kalbar diperkirakan mencapai 7.900 ton per tahun”, papar Endang“ Masih terdapat kekurangan 1.500 ton. Artinya kami masih perlu penambahan areal untuk mencapai swasembada cabai. ”, ujar Endang optimis. “Jika harga cabai di luar negeri menguntungkan, sementara untuk kebutuhan lokal kita bisa cukupi, kami akan dorong juga untuk ekspor ke negara tetangga” tandasnya.