GPMT Maksimalkan Serap Jagung untuk Redam Harga

Dirjen Tanaman Pangan Gatot Irianto memantau panen raya jagung

MONITOR, Gunung Kidul – Mulai minggu kedua bulan Februari ini hingga 2 bulan kedepan, panen raya jagung terjadi dimana-mana terutama di sentra produksi jagung seperti Tanah Karo, Simalungun, Lampung Timur, Gorontalo, Tanah Laut, Pandeglang, Grobogan, Blora, Bojonegoro, Tuban, Lamongan, Sragen, Wonogiri, Boyolali, Bone, Jeneponto, Bolmong, dan Minahasa Selatan.

Kondisi terakhir di sebagian besar sentra produksi jagung menunjukkan harga jagung pipilan kering kadar air 15-17% menurun signifikan dari Rp 5.400/kg – Rp 5.300/kg menjadi Rp 3.650/kg – Rp 4.400/kg bervariasi menurut wilayah dan waktu.

Pada saat panen minggu lalu tanggal 9 Februari bersama Bupati Gunungkidul, Badingah, S.Sos di Kecamatan Playen seluas 300 ha harga panen jagung Rp 4.000/kg. Namun seminggu kemudian saat panen lagi bersama Bupati Gunungkidul di kecamatan yang sama pada tanggal 18 Februari 2019 seluas 341 ha harga sudah anjlok menjadi Rp. 3.500/kg.

Direktur Jenderal Tanaman Pangan, Gatot Irianto mengatakan, fenomena ini juga terjadi di Kabupaten Sragen. Pada tanggal 19 Februari 2019 saat panen dengan Kadistan Kab Sragen Eka Rini seluas 250 ha harga juga anjlok menjadi Rp 4.000/kg. Padahal seminggu sebelumnya juga dilaporkan masih Rp 5.000/kg.

“Anjloknya harga jagung saat panen raya merupakan kerugian dan derita petani. Fenomena yang terus berulang menunjukkan penyelesaian masalah harga jagung saat panen raya belum pada pokok persoalan,” ujar Gatot Irianto, Kamis (21/2).

Data penurunan harga jagung yang dilaporkan petugas informasi pasar tercatat selama seminggu ini antara Rp 100/kg – Rp 1.000/kg terjadi di beberapa kabupaten sentra produksi jagung. Gatot menjelaskan, penurunan harga ini akan berlangsung terus dan minggu depan harga bisa menjadi semakin anjlok di beberapa Kabupaten lain.

“Situasi ini terus kami mitigasi agar kerugian petani dapat lebih ditekan. Petani sebagai pejuang pangan terdepan tidak boleh menjadi korban, apalagi dikorbankan. Semua pihak harus sepakat bahwa menolong petani dengan menjaga harga jagung yang wajar saat panen raya merupakan tanggung jawab semua pihak,” ungkap Gatot.

Merespon kondisi di lapangan tersebut, Rabu, 20 Februari 2019 kemarin, Gatot Irianto bersama Direktur Pakan Ternak mengumpulkan Gabungan Perusahaan Makanan Ternak (GPMT) di Kantor Direktorat Jenderal Tanaman Pangan, Jakarta untuk membahas mitigasi anjloknya harga jagung. Hadir dalam rapat tersebut Ketua GPMT, DR. Desianto Utomo beserta 7 anggotanya dari perwakilan perusahaan pakan ternak, antara lain CPI, Malindo, Cargill, Japfa, Gold Coin Indonesia, Sierad, CJ.

Melalui dialog yang kondusif, Gatot menyampaikan kondisi di lapangan harga jagung petani mulai anjlok. Semua peserta pun sepakat bahwa kondisi tersebut benar adanya.

Menanggapi situasi ini, Gatot meminta agar GPMT mengintensifkan penyerapan jagung petani dan memprosesnya jadi pakan selama satu bulan ke depan. Perlu kita ketahui bahwa komponen utama pakan ternak sekitar 60% adalah jagung. Dengan demikian penyerapan jagung untuk pakan ini dapat mempertahankan harga jagung petani dari anjloknya harga akibat oversupply, sekaligus bisa menekan harga pakan ternak.

Sementara itu, GPMT mengapresiasi dan menyambut baik permintaan Direktur Jenderal Tanaman Pangan dan beekomitmen akan secepatnya menyerap jagung dari petani hingga 1 juta ton per bulan. Upaya lain juga dilakukan Kementerian Pertanian dengan menghimbau gapoktan agar lebih maksimal memanfaatkan pengering/dryer bantuan pemerintah sehingga jagung hasil panen dapat disimpan 2-3 bulan ke depan.

Jika petani melakukan pengeringan jagung saat panen raya, maka pasokan jagung di pasar tidak oversupply, sehingga harga tidak jatuh,” terangnya.

Pengeringan dan penyimpanan serta penjualan jagung di luar periode panen raya dapat menaikkan harga jual jagung petani dan menambah pasokan jagung di luar panen raya. Managemen pasca panen dan pengolahan hasil ini perlu direspon Perum Bulog mulai penyerapan saat panen, pengolahan, penyimpanan, dan pemasaran jagung, pungkas Gatot.