Berkat Embung, Petani Bali Tetap Produktif di Musim Kemarau

Embung milik petani I Wayan Arsa di Desa Antapan, Kecamatan Baturiti, Kabupaten Tabanan. Embung berkapasitas total 72 meter kubik ini mampu mengairi 6000 meter persegi sawah

MONITOR, Tabanan – Pembangunan embung di sentra produksi pertanian terbukti efektif tingkatkan produktivitas petani. Di Desa Antapan, Kecamatan Baturiti, Kabupaten Tabanan, Bali, keberadaan embung tersebut sangat dirasakan para petani, terutama ketika sudah memasuki musim kemarau. “kami tetap dapat menanam sayuran di luasan yang sama dengan saat musim hujan,” ungkap Ketua Kelompok Setia Makmur, I Wayan Widana saat menerima kunjungan tim Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Bali, Jumat (24/8) lalu.

Tak hanya itu, keberadaan embung juga berhasil tingkatkan efisiensi waktu petani dalam mengolah lahan. Sebelum ada embung, para petani di Desa Antapan, mengaku hanya sanggup mengolah sepertiga dari luasan lahan yang digarap. “Dulu waktu kita habis digunakan untuk mengangkuti air dari sumber yang letaknya cukup jauh. Sekarang jadi hemat waktu untuk bekerja menyiram tanaman,” ungkap I Wayan Arsa, salah satu petani di desa yang berada di ketinggian 800 mdpl tersebut.

Manfaat keberadaan embung juga turut dirasakan oleh petani di Desa Bukti, Kecamatan Kubutambahan, Kabupaten Buleleng. Dalam kunjungan Tim BPTP Bali di hari yang sama tersebut, para petani Desa Bukti mengungkapkan bahwa pengembangan pertanian juga sempat memiliki kendala dari sisi ketersediaan air. Tapi kemudian Kementerian Pertanian (Kementan) melalui BPTP Bali turut memfasilitasi pembangunan embung di desa yang berdataran rendah dan memiliki iklim kering tersebut. Pembangunan embung mendapat dukungan dana yang berasal dari sejumlah stakeholder, termasuk swadaya petani.

Embung di masing-masing desa Antapan dan Desa Bukti memiliki pola kepemilikan yang berbeda. Di Desa Antapan, Tabanan, kepemilikan embung bersifat beragam tergantung ketersediaan luas lahan petani, sedangkan embung di Desa Bukti, Buleleng umumnya dimiliki oleh kelompok tani. Contoh saja di Desa Antapan, Tabanan, satu petani memiliki 2 embung dengan kapasitas total 72 meter kubik mampu mengairi 6000 m2 lahan dengan 72.000 liter debit air yang dialirkan. Sementara di Desa Bukti, Buleleng, 8 embung yang dimiliki kelompok Kerthi Winangun, memiliki volume 840 meter kubik, serta dimanfaatkan oleh 32 petani.

Keberadaan embung di dua desa tersebut tidak lepas dari program Bioindustri yang diusung oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan). Program bioindustri diimpelementasikan oleh semua BPTP yang tersebar di 33 provinsi, termasuk BPTP Bali.

Tim Bioindustri BPTP Bali masuk ke sejumlah lokasi binaan ini sejak tahun 2015. Dukungan Kementan ditunjukkan dengan memfasilitasi pembangunan infrastruktur berupa sarana penampung air (atau embung), hidram (pompa air) untuk kelompok, dan kandang yang dilengkapi sarana produksi pupuk organik padat dan cair. Dengan semangat partisipatif, petani anggota juga mengeluarkan modal sendiri untuk mencukupi kekurangan bahan bangunan, seperti yang ditunjukkan saat pembangunan embung di Desa Antapan maupun Desa Bukti.

*Program Bioindustri Tingkatkan Efisiensi Biaya*

Kegiatan Bioindustri yang dikembangkan Balitbangtan mengusung konsep yang sangat sederhana, yaitu integrasi tanaman dan ternak. Inovasi yang diperkenalkan oleh BPTP Bali ke petani binaan pun memiliki konsep yang sama, yaitu pemanfaatan limbah ternak menjadi pupuk organik untuk tingkatkan produktivitas sayuran, serta teknologi pakan untuk  meningkatkan performa ternak sapi.

Penerapan model bioindustri ini terbukti efisien. Inovasi pupuk organik padat dan cair yang diolah oleh masing-masing petani untuk lahannya sendiri, misalnya telah menurunkan penggunaan pupuk dan pestisida kimia sebesar 40%.

Salah seorang anggota Tim Pengarah Kegiatan Bioindustri, Prof Pantjar Simatupang mengakui terkesan dengan praktik budidaya yang dilakukan petani di kedua desa tersebut. Ia menilai budidaya yang dikembangkan telah sesuai dengan konsep bioindustri. “Selain nampak integrasinya, terlihat pula sistem pertanaman yang baik, yaitu memilih “tanaman kompanion” atau tanaman serumpun,” ungkap Pantjar saat dimintai keterangan, Selasa (28/8).

Contoh kasus yang ditemukan di desa Antapan, di lahan yang sama seorang petani dapat secara bergantian menanam buncis, tomat, dan cabai. Dalam penanaman ketiga komoditas sayuran tersebut, penggunaan ajir hanya perlu 1 kali pemasangan saja. Hal ini menunjukkan pemilihan tanaman kompanion dapat menghemat pemakaian ajir.

Sementara itu, kegiatan bioindustri di Desa Bukti mengusung konsep integrasi tanaman ubikayu dan ternak sapi. Budidaya ubikayu menggunakan varietas unggul atau varietas gajah dari Kalimantan Timur dengan potensi produksi 45 ton per hektare. Potensi produksi ini empat kali lebih besar dari potensi produksi ubikayu lokal. Oleh karena itu, di tahun ini, pertanaman ubikayu varietas gajah telah diperluas hingga mencapai tiga hektare lebih.

Dukungan BPTP Bali dalam pengembangan ternak sapi diwujudkan melalui bimbingan teknis (bimtek) pembuatan molasis untuk meningkatkan kecernaan pakan dalam rumen serta pelatihan pengolahan kotoran sapi menjadi pupuk organik menggunakan mikro organisme lokal (mol). Berkah dari bimtek tersebut, Kelompok Tani di lokasi ini telah menjual produk molasis dan pupuk organik cair, masing-masing dengan nama Moladef Agen Defaunasi dan Urin-max.

Kepala Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian (BBP2TP) Haris Syahbuddin, saat dimintai keterangan terpisah, pada Selasa (28/8), mengapresiasi upaya BPTP Bali dalam menggiatkan program bioindustri di Provinsi Bali. Haris menilai pengembangan model bioindustri akan turut berperan dalam meningkatkan kemandirian ekonomi  petani.

Ia yakin, melalui sistem ini, petani dapat memenuhi kebutuhan energi dan pangan, serta meningkatkan kesejahteraannya.  meyakini bahwa sistem ini dapat meningkatkan daya tahan terhadap kebutuhan energi, pangan dan berdampak terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat petani. Menurutnya, penerapan pertanian bioindustri terbukti telah memberikan manfaat dan kontribusi bagi semua pelaku mulai dari hulu hingga hilir.

Selain itu, Haris juga optimis program bioindustri tingkatkan efisiensi biaya. “Melalui sistem pertanian bioindustri, tidak ada yang terbuang karena output satu sub sistem menjadi input bagi sub sistem lain. Limbah pun dapat diminimalisir, serta yang tak kalah penting, produksi dapat ditingkatkan”, pungkasnya.